Pencarian

14 Kabupaten di Jateng Masuk Status Awas Kekeringan Meteorologis, BMKG Minta Distribusi Air Rutin

Minggu, 23 Agustus 2026 • 15:36:02 WIB
14 Kabupaten di Jateng Masuk Status Awas Kekeringan Meteorologis, BMKG Minta Distribusi Air Rutin
Warga mengantre untuk mendapatkan air bersih dari mobil tangki di tengah kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Jawa Tengah.

Sebanyak 14 kabupaten di Jawa Tengah masuk status Awas kekeringan meteorologis pada periode 21-31 Agustus 2026, dengan curah hujan diprediksi di bawah 50 milimeter per dasarian. BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah meminta pemerintah daerah dan instansi terkait mengantisipasi krisis air bersih melalui distribusi rutin.

CILACAP — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Jawa Tengah memperingatkan seluruh wilayah provinsi ini siaga menghadapi kekeringan meteorologis pada dasarian III Agustus 2026. Berdasarkan pemutakhiran data per 17 Agustus, peluang curah hujan kategori rendah di bawah 50 milimeter per dasarian di seluruh Jawa Tengah lebih dari 90 persen.

Kepala BMKG Stasiun Klimatologi Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto mengatakan peta peringatan dini kekeringan meteorologis periode 21-31 Agustus 2026 membagi wilayah menjadi tiga status: Awas, Siaga, dan Waspada. Status Awas merupakan kondisi paling kritis ketika hujan tidak turun minimal 61 hari berturut-turut.

14 Kabupaten Masuk Kategori Paling Kritis

Daerah dengan status Awas meliputi Demak, Kudus, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, Blora, Sragen, Karanganyar, Purworejo, Klaten, Magelang, Cilacap, dan Wonogiri. Pada status ini, tanah menjadi sangat kering, sumber air berpotensi mengering, dan kekeringan dapat mengancam kebutuhan dasar masyarakat.

Seluruh status tersebut diikuti prediksi curah hujan kurang dari 20 milimeter per dasarian dengan peluang lebih dari 70 persen. Goeroeh menegaskan pemerintah daerah dan instansi terkait perlu mengantisipasi krisis air bersih melalui distribusi air secara rutin.

Status Siaga: 18 Wilayah Mulai Alami Penyusutan Sumber Air

Status Siaga mencakup Brebes, Tegal, Pemalang, Pekalongan, Batang, Kendal, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, Kebumen, Temanggung, Semarang, Boyolali, Sukoharjo, Kota Semarang, Kota Salatiga, dan Kota Magelang. Kategori ini menandakan hujan tidak turun minimal 31 hari sehingga sumur dangkal, sungai, dan embung mulai menyusut.

Menurut Goeroeh, kondisi tersebut juga berdampak pada sektor pertanian dan memerlukan pengelolaan irigasi lebih ketat. Sementara itu, status Waspada disematkan untuk Kota Tegal, Kota Pekalongan, dan Kota Surakarta sebagai peringatan awal ketika hujan tidak turun selama minimal 21 hari.

Awal September Dipetakan sebagai Fase Paling Kering

BMKG memprakirakan seluruh wilayah Jawa Tengah masih berada pada kriteria curah hujan rendah 0-50 milimeter per dasarian hingga akhir September 2026. Awal September dipetakan sebagai fase paling kering, sehingga masyarakat diminta menghemat penggunaan air dan membatasi pemakaian untuk kebutuhan yang tidak mendesak.

"Masyarakat juga diminta memprioritaskan air untuk minum dan memasak," kata Goeroeh. Kekeringan juga meningkatkan ancaman gagal panen pada lahan tadah hujan, sehingga petani dianjurkan mempertimbangkan tanaman yang lebih tahan kering dan tidak memaksakan komoditas yang membutuhkan banyak air.

Risiko Kebakaran dan Gangguan Kesehatan Meningkat

Banyaknya material kering meningkatkan risiko kebakaran. Masyarakat diminta tidak membuka lahan dengan membakar dan tidak membuang puntung rokok sembarangan. Kondisi kekeringan juga dapat meningkatkan risiko dehidrasi, diare, penyakit kulit, dan gangguan saluran pernapasan akibat keterbatasan air bersih serta paparan debu.

Follow katajateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks