SUKOHARJO — Sejumlah pegawai di Kabupaten Sukoharjo memilih bertahan menggunakan Pertamax meski harga jualnya di SPBU belum mengalami penurunan hingga 22 Agustus 2026. Mereka menilai selisih harga dengan Pertalite masih sebanding dengan efisiensi pemakaian harian kendaraan bermotor.
Harga BBM nonsubsidi dari Pertamina itu tercatat masih berada di kisaran Rp 12.500 per liter untuk wilayah Jawa Tengah. Angka ini belum berubah sejak penetapan terakhir pemerintah, sementara harga minyak mentah dunia justru menunjukkan tren fluktuatif dalam beberapa pekan terakhir.
Lebih Irit di Jalan Macet, Pegawai Pilih Tahan Kantong
Andri Wibowo, karyawan swasta di kawasan Grogol, mengaku sudah menghitung ulang pengeluarannya. "Kalau dihitung-hitung, Pertamax itu lebih irit. Satu liter bisa tembus 40 kilometer untuk motor matik saya, sedangkan Pertalite biasanya cuma 35 kilometer. Jadi ya tetap pakai Pertamax," ujarnya saat ditemui di SPBU Kartasura, Jumat (22/8).
Ia menambahkan, biaya perawatan mesin juga menjadi pertimbangan. Menurutnya, pembakaran yang lebih bersih membuat busi dan oli tidak cepat kotor, sehingga biaya servis berkala bisa ditekan. "Daripada ganti oli lebih sering, mending beli BBM yang lebih bagus," katanya.
Ganti ke Pertalite? Sebagian Pilih Kurangi Frekuensi Perjalanan
Keputusan berbeda diambil oleh Rina Puspitasari, pegawai administrasi di sebuah perusahaan tekstil di Sukoharjo. Ia sempat mencoba pindah ke Pertalite selama dua pekan, namun akhirnya kembali memakai Pertamax. "Kendaraan saya terasa lebih berat dan tarikannya kurang responsif. Akhirnya saya balik lagi, tapi saya kurangi jajan di luar dan bawa bekal dari rumah," ungkapnya.
Fenomena ini terpantau di sejumlah SPBU di jalur Solo–Sukoharjo. Petugas operator SPBU di Jalan Ahmad Yani mencatat, penjualan Pertamax untuk kendaraan roda dua justru meningkat sekitar 10 persen dalam sebulan terakhir. Sementara itu, pembelian Pertalite didominasi pengendara roda empat dan angkutan barang.
Belum Ada Sinyal Penurunan, Konsumen Andalkan Poin dan Promo
Meski harga belum turun, konsumen mulai memanfaatkan program loyalitas dari Pertamina. Beberapa pegawai di Sukoharjo mengaku mengumpulkan poin dari transaksi MyPertamina untuk ditukar dengan diskon atau voucher belanja. "Lumayan, setiap bulan bisa dapat potongan Rp 20 ribu buat beli minuman atau makanan di merchant rekanan," kata Andri.
Ekonom Universitas Slamet Riyadi Surakarta, Ahmad Fauzi, menilai perilaku ini menunjukkan daya beli masyarakat kelas menengah di Sukoharjo masih relatif stabil. "Mereka tidak serta-merta pindah ke BBM lebih murah, tetapi memilih menyesuaikan pos pengeluaran lain. Ini sinyal bahwa segmentasi konsumen Pertamax cukup loyal," jelasnya.
Ia menambahkan, keputusan pemerintah menahan harga BBM nonsubsidi memang berdampak pada inflasi, namun juga menjaga margin pendapatan badan usaha. "Jika harga minyak dunia terus turun, baru ada ruang untuk penyesuaian. Sampai saat ini, belum ada indikasi kuat ke arah sana," pungkasnya.