SEMARANG — Perjalanan dari Salatiga ke Semarang ditempuh Ana (21) dengan satu harapan: mendapatkan pekerjaan pertamanya. Namun, sesampainya di job fair yang digelar Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Jateng, Kamis (20/8/2026) sore, ia menemukan pola rekrutmen yang jauh dari ekspektasi.
“Awalnya penginnya di job fair itu datang terus kita interview, ngobrol secara langsung. Ternyata di kali ini kita scan-scan saja,” kata Ana saat ditemui Jatengnews.id di lokasi acara.
Ekspektasi Wawancara Langsung, Realitanya Pindai Kode QR
Ana berangkat dari Salatiga sekitar pukul 12.00 WIB bersama dua temannya setelah menyelesaikan verifikasi dokumen kampus. Ia membayangkan bisa menyerahkan berkas lamaran fisik dan berdialog langsung dengan perwakilan Human Resource Development (HRD) perusahaan, seperti pengalamannya di job fair sebelumnya.
Kenyataannya, sebagian besar stan hanya menampilkan poster berisi kode QR yang mengarah ke tautan pendaftaran daring. Ana pun memotret puluhan informasi lowongan yang tersedia. Namun, hanya satu perusahaan yang menarik minatnya: PT Hermono Cahaya. Faktor jarak menjadi pertimbangan utama karena lokasi perusahaan itu dekat dengan rumahnya di Purwodadi.
Pertanyaan Kritis: Apa Bedanya dengan Buka Internet di Rumah?
Pengalaman ini membuat Ana mempertanyakan esensi penyelenggaraan job fair secara luring. Menurutnya, jika prosesnya hanya bermuara pada pemindaian kode QR, pemerintah seharusnya bisa menggelar acara serupa secara daring.
“Kalau cuma di-scan-scan, sebenarnya pemerintah bisa mungkin bikin acaranya secara online saja. Kita kasih link atau scan-nya di Instagram atau media sosial yang lain juga bisa,” ujarnya.
Baginya, kehadiran fisik di sebuah job fair seharusnya menjadi jembatan untuk membangun koneksi personal dengan perusahaan, bukan sekadar koridor transfer data digital.
Pijakan Pertama di Dunia Kerja: Antara Ijazah dan Realitas
Bagi Ana, momen ini adalah langkah awal yang krusial. Dengan latar belakang Manajemen Bisnis, ia berharap bisa memulai karier di bidang marketing atau HRD yang sejalur dengan kapasitas dan jurusannya. Ia sadar pekerjaan pertama bukanlah tujuan akhir, melainkan batu loncatan untuk membangun pengalaman.
“Ini hanya untuk langkah pertama saja. Enggak selamanya pengin kerja di perusahaan juga,” tuturnya.
Meski demikian, pengalaman pertamanya terjun langsung ke bursa kerja membuka matanya tentang kerasnya persaingan. “Ternyata nyari kerja susah juga ya,” keluhnya.
Ia juga menegaskan bahwa gelar sarjana bukanlah tiket otomatis menuju gaji besar. “Enggak ngaruh. Semuanya tergantung kapasitas diri sendiri sama mungkin hoki-hokian juga,” kata Ana.
Perjalanan Ana menjadi potret kecil bagaimana para lulusan baru harus berjuang di tengah ketatnya pasar kerja: membawa ijazah dan ilmu, tetapi tetap harus bersaing untuk mendapatkan kesempatan pertama yang nyata, bukan sekadar memindai kode.