JAWA TENGAH — Kegagalan rencana komersialisasi terbaru FIFA tidak hanya menggagalkan target pendapatan, tetapi juga memicu krisis kepercayaan di internal organisasi. UEFA, CONCACAF, dan AFC mengeluarkan surat bersama yang menuduh Infantino telah merusak kepercayaan melalui tindakan yang mereka sebut sebagai penipuan terkait proposal pembentukan anak perusahaan pengelola Piala Dunia.
"Ketika kepercayaan dikhianati melalui tipu daya, ketika seseorang menempatkan dirinya di atas kelompok yang telah memercayakan wewenang kepadanya, maka kewajiban itu telah diabaikan," tulis ketiga federasi tersebut dalam pernyataan bersama.
Rencana Bisnis yang Memicu Kemarahan
Infantino berupaya membentuk anak perusahaan yang akan mengelola kompetisi Piala Dunia. Rencana ini membuka peluang bagi investor untuk membeli saham hingga 20 persen pada perusahaan turunan tersebut. Langkah ini mendapat penolakan luas dari berbagai pihak di dunia sepak bola, memaksa FIFA membatalkan rencana tersebut.
Infantino akhirnya menyampaikan permintaan maaf terkait rencana yang gagal itu. Namun, permintaan maaf tersebut tidak meredam tekanan yang dihadapinya.
Trump: Jangan Ganti Infantino
Di tengah desakan mundur yang menguat, Trump malah tampil sebagai pembela. Melalui unggahan di Truth Social pada Senin (10/8/2026) waktu setempat, Trump menyatakan FIFA akan membuat kesalahan besar jika mengganti Infantino.
"Jika dia (Infantino) pergi, turnamen (Piala Dunia) tidak akan sukses atau untung lagi!" tulis Trump, dikutip dari CNBC pada Selasa (11/8/2026).
Trump menilai Infantino sebagai tokoh utama di balik kesuksesan komersialisasi FIFA, yang berujung pada penyelenggaraan Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen edisi tersebut disebut-sebut sebagai yang terbesar dan paling menguntungkan dalam sejarah Piala Dunia.
Infantino di Persimpangan Jalan
Dukungan dari Presiden AS jelas menjadi angin segar bagi Infantino. Namun, surat tuduhan dari tiga konfederasi besar—UEFA, CONCACAF, dan AFC—menunjukkan bahwa oposisi terhadap kepemimpinannya datang dari lingkaran dalam FIFA sendiri.
Pertanyaannya kini, apakah dukungan dari tokoh politik sekelas Trump cukup untuk menyelamatkan kursi Infantino? Atau justru sebaliknya, pembelaan tersebut semakin memperdalam jurang antara dirinya dengan federasi-federasi yang menuntut pertanggungjawaban?
Yang jelas, masa depan kepemimpinan FIFA tengah berada di titik paling genting. Kegagalan rencana penjualan saham dan tuduhan penipuan yang melayang menjadi ujian terbesar bagi Infantino sejak menjabat sebagai presiden organisasi sepak bola dunia tersebut.