Pencarian

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.940 per USD, Harga Minyak Dunia Jadi Pemicu

Senin, 28 September 2026 • 09:34:01 WIB
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.940 per USD, Harga Minyak Dunia Jadi Pemicu
Rupiah dibuka melemah 0,21% ke level Rp17.940 per dolar AS pada perdagangan Senin (28/9/2026).

JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah 0,21% ke level Rp17.940 pada pembukaan perdagangan Senin (28/9/2026), dibandingkan penutupan Jumat (25/9/2026) di Rp17.903 per dolar AS. Pelemahan mata uang Garuda terjadi seiring mayoritas mata uang Asia yang juga tertekan, dengan lonjakan harga minyak dunia dan ketegangan geopolitik terkait Iran menjadi faktor utama yang membebani sentimen pasar.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah akan bergerak fluktuatif sepanjang perdagangan hari ini sebelum ditutup melemah di rentang Rp17.900 hingga Rp17.950 per dolar AS. Untuk pekan depan, ia memproyeksikan rentang pergerakan yang lebih lebar.

"Sedangkan untuk perdagangan pekan depan di Range Rp17.800-Rp18.100," kata Ibrahim kepada wartawan.

Tekanan Global dari Lonjakan Minyak dan Konflik Iran

International Monetary Fund (IMF) mengingatkan seluruh pemangku kepentingan dunia bahwa kondisi ekonomi global bakal semakin tertekan. Konflik yang berkaitan dengan Iran dan gangguan pasokan energi telah meningkatkan tekanan inflasi global sejak Februari.

"Kondisi tersebut mendorong bank sentral di berbagai negara untuk menaikkan suku bunga guna mengendalikan kenaikan harga," ujar Ibrahim.

Kebijakan suku bunga yang lebih tinggi turut meningkatkan biaya pinjaman pemerintah. Beban bunga utang yang membengkak berpotensi mempersempit ruang fiskal negara untuk memberikan stimulus atau meredam dampak ekonomi apabila harga energi kembali melonjak.

Langkah Kolaborasi Kemenkeu dan Bank Indonesia

Untuk meredam pelemahan rupiah, Kementerian Keuangan dan Gubernur Bank Indonesia menjalankan kolaborasi kebijakan fiskal dan moneter melalui empat langkah utama:

  • Optimalisasi pertumbuhan ekonomi dengan memaksimalkan instrumen kebijakan fiskal dan moneter secara padu guna menopang laju pertumbuhan ekonomi nasional.
  • Penguatan sektor eksternal untuk menjaga stabilitas dari potensi gejolak eksternal pada sektor perdagangan dan aliran modal asing (capital inflows).
  • Pengelolaan likuiditas perekonomian untuk memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang, perbankan, dan sektor riil, termasuk merespons dinamika perebutan dana yang memicu kenaikan beban biaya dana (cost of fund).
  • Pengendalian inflasi dengan memperkuat koordinasi penanganan inflasi melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP/TPID).

Dampak bagi Investor dan Pelaku Bisnis

Pelemahan rupiah yang berlanjut berpotensi menekan emiten dengan beban utang dalam dolar AS, terutama di sektor yang banyak mengimpor bahan baku. Sebaliknya, eksportir berbasis komoditas bisa menikmati keuntungan dari selisih kurs jika harga jual dalam dolar tetap stabil.

Ibrahim menyebut penguatan rupiah sebenarnya ditopang oleh pelambatan ekonomi akibat lonjakan harga minyak. Namun, tekanan eksternal yang masih kuat membuat ruang penguatan terbatas dalam jangka pendek.

Pelaku pasar akan mencermati perkembangan harga minyak dunia dan pernyataan bank sentral AS dalam beberapa hari ke depan untuk mengukur arah pergerakan rupiah selanjutnya.

Follow katajateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: wartaekonomi.co.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks