SEMARANG — Lakon "Dhemit" menempatkan para penghuni hutan bukan sebagai sosok menakutkan, melainkan pihak yang kehilangan tempat tinggal. Alih-alih menghadirkan hantu yang meneror manusia, pertunjukan ini justru menunjukkan para dhemit sebagai korban dari proyek pembangunan yang mengubah habitat mereka.
Pementasan berlangsung dua hari di Gedung E.3 Udinus Semarang. Cerita dibuka ketika sebuah kawasan bukit hendak dibangun menjadi perumahan, pohon-pohon ditebang, dan tanah dikeruk menggunakan alat berat.
Kritik Lingkungan Lewat Komedi Mistis
Audrey mengatakan pementasan ini menjadi salah satu cara Teater Kaplink menyampaikan kepedulian terhadap lingkungan. Pesan tersebut dikemas melalui pertunjukan komedi mistis agar isu lingkungan lebih dekat kepada penonton.
"Kami berupaya peduli dengan lingkungan. Tujuannya agar alam tetap harus dijaga," kata Audrey, Jumat, 2 Oktober 2026.
Pendekatan komedi dipilih supaya kritik tidak terasa menggurui. Penonton diajak tertawa, lalu dihadapkan pada persoalan yang sebenarnya serius.
Rajeg Wesi dan Suli: Ketika Peringatan soal Tanah Labil Diabaikan
Dalam cerita, muncul Rajeg Wesi sebagai pimpinan proyek bersama Suli yang berperan sebagai konsultan. Suli sebenarnya telah mengingatkan adanya risiko dari kondisi tanah yang labil.
Ia menyarankan pembangunan terasering untuk mengurangi bahaya. Usul tersebut tidak mendapat respons.
Persoalan serupa terjadi ketika Suli meminta pohon preh dipertahankan. Ia mengusulkan pembangunan jembatan sebagai alternatif, namun kembali ditolak karena dianggap dapat mengurangi keuntungan proyek.
Dari situ, pertentangan antara kepentingan pembangunan dan keselamatan lingkungan menjadi salah satu sumber humor sekaligus kritik dalam pertunjukan.
Para Dhemit Mempertanyakan Ulah Manusia
Para dhemit ikut mempertanyakan ulah manusia yang terus mengubah habitat mereka. Hutan yang sebelumnya menjadi tempat tinggal perlahan berganti menjadi bangunan dan kawasan proyek.
Pergeseran itu ditampilkan bukan sebagai bencana alam, melainkan sebagai akibat keputusan manusia yang menomorsatukan keuntungan.
Parodi Bahasa Kekuasaan yang Berbelit
Kritik tidak hanya diarahkan terhadap kerusakan alam. Dialog antartokoh juga memparodikan bahasa kekuasaan yang berbelit-belit dan sulit dipahami.
Melalui lakon "Dhemit", Teater Kaplink Udinus Semarang menempatkan persoalan lingkungan sebagai bahan refleksi bersama, bukan sekadar tontonan.