JAWA TENGAH — Kapal pengangkut BBM itu telah merapat dan langsung memulai proses bongkar muat di terminal bahan bakar Pertamina. Dengan kedatangan ini, volume pasokan di sejumlah depot dan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kalbar dipastikan bertambah secara signifikan.
Stok Aman untuk Kebutuhan Harian dan Logistik
Pertamina Patra Niaga menyebutkan bahwa tambahan pasokan ini mencakup jenis BBM utama seperti solar dan bensin. Kedua jenis bahan bakar ini menjadi tulang punggung sektor transportasi, logistik, dan perikanan di wilayah Kalbar.
Distribusi dipercepat agar tidak terjadi antrean panjang di SPBU, terutama di daerah-daerah yang jalur distribusinya bergantung pada transportasi sungai dan darat. Pertamina juga memastikan bahwa pasokan untuk sektor prioritas seperti pelayanan publik dan usaha kecil menengah tetap berjalan lancar.
Koordinasi dengan Pemerintah Daerah dan Regulator
Pertamina Patra Niaga Kalimantan berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) untuk memonitor distribusi secara ketat. Langkah antisipatif ini diambil untuk menghindari kelangkaan yang sempat dikhawatirkan beberapa pekan terakhir.
Perusahaan pelat merah ini juga mengerahkan tim lapangan untuk memastikan tidak ada penimbunan atau penyimpangan distribusi di tingkat pengecer. Masyarakat diimbau untuk membeli BBM sesuai kebutuhan dan tidak melakukan panic buying.
Dampak Langsung bagi Masyarakat dan Pelaku Usaha
Dengan bertambahnya pasokan, aktivitas distribusi barang dan mobilitas warga di Kalbar diharapkan kembali normal. Sektor perikanan dan pertanian yang sangat bergantung pada solar juga akan merasakan dampak positif karena harga angkut bisa lebih stabil.
Pertamina berkomitmen menjaga harga BBM tetap sesuai ketentuan pemerintah tanpa ada kenaikan di tengah tambahan pasokan ini. Pengawasan di lapangan akan diperketat hingga kondisi pasokan benar-benar pulih.
Kedatangan kapal pengangkut ini menjadi sinyal bahwa Pertamina Patra Niaga serius menjaga ketahanan energi di Kalimantan Barat. Langkah ini juga mempertegas peran BUMN sebagai penyangga utama kebutuhan energi nasional, terutama di daerah-daerah yang rawan gangguan distribusi.