JAWA TENGAH — Menteri Perdagangan Budi Santoso menyaksikan langsung penandatanganan dua kerja sama dalam acara "Launching Akses Pasar UMKM Pangan Kemasan ke AEON Indonesia". Pertama, nota kesepahaman antara Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan dan Presiden Direktur PT AEON Indonesia Miyata Masato. Kedua, kontrak dagang antara 10 UMKM pangan dan AEON Indonesia.
"Kemendag bersama Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), melalui AEON Indonesia, memberi akses kepada UMKM untuk memasarkan produk di jaringan ritel AEON Indonesia," ujar Mendag Busan dalam sambutannya.
Daftar 10 Produk UMKM yang Masuk Jaringan AEON
Kesepuluh produk yang lolos kurasi mencakup camilan hingga makanan olahan kemasan:
- Keripik jamur tiram
- Keripik tempe
- Bawang goreng premium
- Peyek
- Rendang kemasan
- Granola
- Brownies panggang
- Stik keju (cheese stick)
- Kentang mustofa oven
- Kraker vegan panggang
Menurut Mendag Busan, seleksi tidak hanya menilai kualitas rasa. Aspek legalitas usaha dan konsistensi pasokan menjadi syarat wajib sebelum produk masuk rak ritel modern.
"Kesepuluh UMKM yang masuk ke jaringan AEON Indonesia telah dikurasi ketat dari segi standar produk, legalitas, hingga konsistensi pasokan," ujarnya.
Open Call AEON Diikuti 1.200 UMKM
Kemendag dan AEON Indonesia membuka pendaftaran pasokan melalui open call kurasi pada 26 Agustus-1 September 2026. Lebih dari 1.200 UMKM sektor makanan, minuman, kecantikan, dan kesehatan mendaftar sebagai calon pemasok.
Angka itu jauh melampaui kuota yang tersedia. Bagi Kemendag, respons tersebut menandakan minat UMKM menembus ritel modern cukup besar, meski tidak semuanya lolos seleksi standar AEON.
Presiden Direktur PT AEON Indonesia Miyata Masato menyebut kerja sama dengan UMKM sudah berjalan sejak 2015. Saat ini AEON telah bermitra dengan lebih dari 100 UMKM dengan lebih dari 500 Stock Keeping Unit (SKU) yang dipasarkan.
"Kerja sama harmonis antara ritel dan UMKM akan berjalan baik dengan dukungan dari pemerintah," ujar Miyata.
77 Persen Produk AEON Berasal dari Dalam Negeri
Pasar swalayan AEON Indonesia saat ini diisi lebih dari 77 persen produk dalam negeri. Porsi itu menempatkan AEON sebagai jalur distribusi potensial bagi pelaku usaha lokal, terutama di sektor makanan, minuman, beauty care, dan health care.
Berdasarkan data Statista, nilai pasar domestik makanan dan minuman diproyeksikan tumbuh rata-rata 6,95 persen per tahun selama lima tahun ke depan. Pertumbuhan itu menjadi alasan Kemendag mendorong kemitraan UMKM dengan ritel modern.
Sepanjang 2025-2026, Kemendag memfasilitasi 1.488 UMKM melalui program perluasan akses pasar dalam negeri. Fasilitasi itu mencakup Pangan Nusa Expo, UKM Pangan Award Goes to Ritel Modern, penjajakan bisnis dengan peritel dan department store, hingga kemitraan dengan Kereta Api Indonesia (KAI) dan Teras Indonesia IKEA.
Tiga Pegangan UMKM Menurut AEON
Dari pengalaman 11 tahun bermitra dengan UMKM, Miyata menyebut tiga hal yang menentukan keberlanjutan usaha di rak ritel modern. Pertama, menjaga standar dan konsistensi kualitas produk. Kedua, menetapkan harga yang tepat dan berkelanjutan. Ketiga, pemasaran proaktif melalui kemasan, cerita produk, sampling, dan promosi.
Peter Hutomo, co-owner keripik tempe Arva yang produknya masuk jaringan AEON, mengapresiasi terbukanya akses pasar ini. Baginya, masuk ke ritel modern memberi kepastian volume pesanan yang selama ini sulit didapat UMKM yang hanya mengandalkan penjualan daring.
Bagi pelaku UMKM lain, model kemitraan ini bisa menjadi rujukan sebelum mendaftar open call berikutnya. Standar produk dan legalitas usaha menjadi dua hal yang paling sering menggugurkan pendaftar.