JAWA TENGAH — Data Refinitiv menunjukkan pelemahan rupiah hari ini menambah koreksi 0,17 persen yang terjadi pada Kamis (10/9/2026). Dua hari berturut-turut rupiah tertekan, dengan pasar valuta asing masih mencerna kombinasi sentimen eksternal yang belum mereda.
Indeks dolar AS (DXY) bertahan di sekitar level 99, level tertingginya dalam sepekan. Penguatan greenback terjadi setelah data inflasi produsen Amerika Serikat menunjukkan tekanan harga yang masih kuat.
Inflasi Produsen AS Jaga Ekspektasi Pengetatan Moneter
Producer Price Index (PPI) AS naik 0,4 persen secara bulanan pada Agustus 2026, sesuai perkiraan pasar. Secara tahunan, inflasi produsen AS meningkat menjadi 5,4 persen, dengan kenaikan harga energi sebagai pendorong utama.
Angka tersebut membuat investor kembali memperhitungkan kemungkinan The Fed menaikkan suku bunga. Pasar kini memperkirakan peluang cukup besar kenaikan 25 basis poin dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bergerak mendekati level 5 persen. Yield di level ini membuat aset berdenominasi dolar semakin menarik dan berpotensi memicu pergeseran dana dari negara berkembang ke instrumen keuangan AS.
Minyak Brent di Atas US$108 per Barel Perbesar Tekanan
Harga minyak mentah Brent kembali diperdagangkan di atas US$108 per barel pada sesi Asia, setelah menembus level psikologis US$100 pada awal pekan. Kekhawatiran gangguan jalur pengiriman dan pasokan energi dari Timur Tengah menjadi pemicunya.
Bagi Indonesia, harga energi yang tinggi berpotensi meningkatkan kebutuhan valuta asing untuk impor energi. Kondisi ini menambah tekanan terhadap rupiah sekaligus memperkuat kekhawatiran bahwa inflasi global bertahan lebih lama dari perkiraan.
Dolar AS juga mendapat dukungan dari meningkatnya permintaan aset aman di tengah ketegangan geopolitik yang belum surut.
Pasar Menanti Data CPI AS Jumat Malam
Perhatian pelaku pasar selanjutnya tertuju pada rilis Consumer Price Index (CPI) AS periode Agustus 2026 yang dijadwalkan diumumkan Jumat waktu setempat. Data ini menjadi indikator ekonomi penting terakhir sebelum rapat FOMC pekan depan.
Jika inflasi konsumen AS tercatat lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed berpotensi menguat. Dolar dan yield obligasi AS dapat naik lebih lanjut, memberi tekanan tambahan terhadap rupiah.
Sebaliknya, inflasi di bawah ekspektasi dapat mengurangi proyeksi pengetatan moneter. Situasi itu berpotensi memberi ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk kembali menguat.
Faktor yang Perlu Dicermati Investor
Dalam jangka pendek, arah rupiah diperkirakan masih sensitif terhadap empat faktor utama:
- Pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang saat ini bertahan di level 99
- Harga minyak Brent yang masih di atas US$108 per barel
- Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun yang mendekati 5 persen
- Perkembangan ekspektasi suku bunga The Fed menjelang FOMC 15–16 September
Bagi pelaku pasar domestik, kombinasi dolar kuat dan yield Treasury tinggi menjadi faktor yang perlu diperhitungkan dalam mengelola eksposur valuta asing. Investor asing juga cenderung menahan diri sebelum arah kebijakan The Fed jelas.
Pasar obligasi Indonesia berpotensi menghadapi tekanan jika selisih yield dengan US Treasury menyempit. Kondisi ini biasanya berdampak pada arus modal keluar jangka pendek. Investasi mengandung risiko.