WONOGIRI — Sebanyak 219 dari total 275 kebakaran terjadi di gedung dan rumah, dengan kerugian mencapai Rp27 miliar. Sisanya, 56 kejadian, merupakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang merugikan Rp607 juta. Kepala BPBD Provinsi Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyebut lahan pertanian, khususnya tebu, menjadi area paling terdampak karhutla.
Karhutla Ancam Lahan Tebu, Warga Diimbau Tak Bakar Sampah
“Karhutla ini paling banyak terdampak itu lahan, utamanya lahan tebu. Jumlah kerugian karhutla Rp607 juta, kerugian kebakaran gedung dan rumah sampai Rp27 miliar. Karhutla ini yang perlu diantisipasi oleh daerah,” ujar Bergas, Senin (27/7/2026).
Cuaca panas dan minimnya curah hujan membuat vegetasi mengering, sehingga api mudah muncul dan cepat menjalar. BPBD mengimbau masyarakat tidak membakar sampah, membakar lahan, atau membuang puntung rokok sembarangan di area kering untuk mencegah kebakaran meluas.
Kekeringan Meluas, 11 Daerah Tetapkan Status Siaga Darurat
Di sisi lain, krisis air bersih terus meluas. Hingga 24 Juli 2026, sebanyak 25 kabupaten/kota terdampak kekeringan, menjalar ke 83 kecamatan dan 148 desa. Sebanyak 11 kabupaten/kota telah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan 2026.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, PMI, dan perusahaan melalui program CSR terus mendistribusikan bantuan air bersih. Total air bersih yang telah disalurkan mencapai 6,8 juta liter.
Bantuan Air Bersih Capai 6,8 Juta Liter, 184 Ribu Jiwa Terbantu
Rincian distribusi air bersih meliputi 4.853.800 liter dari APBD Provinsi dan APBD kabupaten/kota, serta 1.951.500 liter dari bantuan CSR, PMI, TNI, Polri, dan lembaga lainnya. Bantuan tersebut telah menjangkau sekitar 61.139 kepala keluarga atau 184.643 jiwa.
Tiga daerah penerima distribusi air bersih terbesar saat ini adalah Kabupaten Klaten, Kabupaten Pemalang, dan Kabupaten Banjarnegara.
Stok Air Bersih Masih Aman, Sisa 40 Juta Liter
BPBD Jawa Tengah memastikan stok air bersih masih aman meski kebutuhan terus meningkat. “Masih ada sisa ketersediaan air bersih sekitar 40 juta liter dari total 44,9 juta liter yang disediakan oleh APBD kabupaten/kota. Terkait dengan air bersih ini masih mumpuni, karena ketersediaan anggaran maupun air bersihnya masih tersedia,” jelas Bergas.
Pemerintah mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi kebakaran dan kekeringan yang diperkirakan berlangsung hingga puncak musim kemarau. Langkah pencegahan menjadi kunci agar jumlah kebakaran tidak terus bertambah dan pasokan air bersih tetap terjaga.