Pencarian

BBM Langka di Sulawesi, Pasokan ke PLTU Diduga Ikut Tersendat

Jumat, 18 September 2026 • 14:49:31 WIB
BBM Langka di Sulawesi, Pasokan ke PLTU Diduga Ikut Tersendat

JAWA TENGAH — Kelangkaan bahan bakar minyak di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan diduga turut mengganggu pasokan BBM ke pembangkit listrik tenaga uap. Ketua Forum Mahasiswa Pinggiran Sulselbar, Maulana Yusdianto, menilai kendala itu berpotensi memicu pemadaman listrik yang dampaknya berlapis ke masyarakat. Pertamina diminta menjelaskan secara terbuka kondisi pasokan yang sebenarnya.

Paragraf pembuka: Maulana menyoroti persoalan BBM yang tidak hanya terlihat di Kota Makassar, tetapi juga dirasakan di sejumlah kabupaten dan kota lain di Sulawesi Selatan. Ia menilai persoalan ini perlu dilihat secara menyeluruh, bukan sekadar dari sisi kebutuhan masyarakat, tetapi juga kemungkinan dampaknya terhadap pasokan listrik. Dugaan itu muncul di tengah kemarau panjang yang sudah menekan berbagai sektor.

Kenapa Pasokan ke Pembangkit Jadi Sorotan

Menurut Maulana, jika pasokan BBM ke PLTU benar-benar terganggu, operasional pembangkit bisa ikut terdampak. Ujungnya, pemadaman listrik terjadi di wilayah yang sudah kesulitan mendapatkan BBM untuk kebutuhan sehari-hari.

"Masyarakat sudah kesulitan mendapatkan BBM untuk kebutuhan sehari-hari, kemudian harus menghadapi pemadaman listrik. Karena itu, kondisi pasokan BBM ini perlu dilihat secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi kebutuhan masyarakat, tetapi juga kemungkinan dampaknya terhadap pasokan listrik," kata Maulana.

Ia menekankan persoalan ini tidak bisa dibiarkan berlarut. Dampaknya bersinggungan langsung dengan aktivitas warga, mulai dari rumah tangga hingga pelaku usaha kecil.

Desakan agar Pertamina Buka Data Pasokan

Maulana meminta Pertamina menjelaskan secara terbuka apa yang sebenarnya terjadi. Ia menyebut publik berhak mengetahui berapa kemampuan pasokan yang tersedia, berapa kebutuhan riil di lapangan, dan langkah apa yang disiapkan untuk mengatasinya.

"Masyarakat bisa memahami kalau memang ada kendala. Yang membuat resah adalah ketika informasi yang disampaikan tidak sesuai dengan kondisi yang dirasakan masyarakat di lapangan," ujarnya.

Ia menilai keterbukaan data menjadi kunci. Ketika informasi resmi berbeda dengan yang dirasakan warga, keresahan justru tumbuh lebih cepat.

Belajar dari Antrean LPG

Maulana mengingatkan pengalaman antrean LPG yang pernah terjadi beberapa bulan sebelumnya. Saat itu, ia mengaku sempat menanyakan langsung kepada Pertamina soal kemampuan pasokan LPG yang terus meningkat pembeliannya.

"Waktu itu saya pernah tanyakan ke Pertamina beberapa bulan sebelum kejadian antrean LPG, apakah mereka kewalahan dan tidak bisa menambah kapasitas suplai seiring naiknya pembelian. Mereka justru bilang stop panic buying, jangan panik," ujarnya.

Baginya, pola jawaban seperti itu perlu dihindari. Jika kapasitas memang terbatas, penjelasan terbuka lebih membantu masyarakat menyesuaikan diri ketimbang imbauan agar tidak panik.

Beban Warga yang Menumpuk

Maulana menyoroti masyarakat yang kini menghadapi beberapa persoalan sekaligus. Kemarau panjang, kelangkaan BBM, dan kesulitan mendapatkan gas bersamaan.

"Kami saat ini menghadapi ujian bertubi-tubi. Ada kemarau, BBM langka, dan gas juga sulit didapat," ujarnya.

Ia juga menyinggung isu yang berkembang di masyarakat soal BBM dan LPG yang disebut diprioritaskan untuk kawasan industri dan pertambangan, termasuk Morowali. Menurutnya, kebutuhan energi masyarakat tidak boleh terabaikan dalam kondisi seperti sekarang.

Penutup: Persoalan ini menyentuh dua kebutuhan dasar sekaligus, yakni bahan bakar dan listrik. Tanpa penjelasan resmi yang memadai soal kapasitas pasokan, kekhawatiran warga Sulawesi Selatan berpotensi terus berlanjut.

Follow katajateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: akurat.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks