Pencarian

Review Aksi Dongfeng Voyah Passion S: Akrobat 360 Derajat yang Nyaris Gagal dan Terekam Jelas

Kamis, 20 Agustus 2026 • 13:15:02 WIB
Review Aksi Dongfeng Voyah Passion S: Akrobat 360 Derajat yang Nyaris Gagal dan Terekam Jelas
Dongfeng Voyah Passion S melaju di dalam terowongan saat mencoba aksi putaran 360 derajat.

JAWA TENGAH — Dongfeng Voyah memang sedang gencar membangun citra performa tinggi untuk SUV listrik terbarunya, Passion S. Cara yang dipilih cukup ekstrem: meniru aksi ikonik Michael Schumacher yang memutar Mercedes-Benz SLS AMG 360 derajat di dalam terowongan pada 2010 silam. Namun, upaya ini justru memicu perdebatan sengit di media sosial China sebelum akhirnya pabrikan membuka data mentahnya.

Kronologi Video: Dari Kecurigaan AI hingga Pengakuan Pabrikan

Awalnya, Voyah merilis video yang memperlihatkan Passion S melahap putaran 360 derajat dengan mulus di dalam terowongan. Publik langsung curiga, banyak yang menduga aksi tersebut adalah hasil rekayasa AI atau CGI. Kecurigaan ini memuncak ketika muncul video lain di platform Weibo yang menampilkan prototipe Passion S dengan kamuflase gagal total—mobil jatuh dan menghantam badan jalan.

Menariknya, Voyah tidak tinggal diam. Pihak pabrikan justru merilis rekaman asli yang belum disunting sama sekali sebagai bentuk klarifikasi. Dalam rekaman mentah tersebut, terlihat jelas bahwa aksi itu nyaris gagal. Mobil melaju ke atas ramp dengan kecepatan 130 km/jam dan berputar penuh, namun sempat kehilangan daya cengkeram saat berada dalam posisi terbalik di langit-langit terowongan.

Momen Nyaris Celaka: Bemper Hantam Aspal dan Percikan Api

Bagian paling krusial terlihat saat mobil turun dari posisi terbalik. Jika diperlambat, bemper bawah kiri Passion S terlihat menghantam permukaan jalan dengan keras. Dampak benturannya cukup kuat hingga memicu percikan api dan kepulan asap. Momen inilah yang dihilangkan dalam video editan yang dirilis pertama kali, membuat aksi tersebut tampak sempurna padahal kenyataannya hampir berujung kecelakaan.

Kejadian ini menjadi pelajaran penting soal etika pemasaran. Alih-alih menunjukkan kelemahan, pabrikan justru memilih menyembunyikannya demi kesan heroik. Padahal, rekaman mentah tersebut sebenarnya lebih jujur dan justru menunjukkan batas kemampuan mobil yang sesungguhnya.

Spesifikasi Dongfeng Voyah Passion S: Bukan Sekadar Gimmick

Terlepas dari kontroversi akrobatnya, Passion S tetap punya daya tarik dari sisi teknis. SUV listrik ini ditawarkan dengan dua opsi baterai, yaitu 81 kWh dan 98 kWh. Semua varian menggunakan arsitektur listrik 800 Volt yang memungkinkan pengisian daya dari 20 hingga 80 persen hanya dalam waktu 10 menit—angka yang sangat impresif untuk kendaraan listrik di kelasnya.

Dari sisi performa, Passion S tersedia dalam opsi penggerak RWD dan AWD. Varian tertingginya diklaim menghasilkan tenaga hingga 637 daya kuda dan torsi 765 Nm, dengan akselerasi 0-100 km/jam dalam 4,5 detik. Angka-angka ini menempatkannya sebagai pesaing serius di segmen SUV listrik performa tinggi.

Yang Perlu Diperhatikan: Klaim vs Realita di Lapangan

Insiden nyaris celaka ini menunjukkan bahwa kemampuan mobil di atas kertas belum tentu sejalan dengan eksekusi di dunia nyata. Aksi 360 derajat di dalam terowongan membutuhkan kecepatan presisi, daya cengkeram ban yang sempurna, dan kondisi jalan yang ideal. Kegagalan kecil saja bisa berujung pada benturan keras seperti yang terekam.

Untuk pasar Indonesia, Passion S belum dikonfirmasi masuk. Namun jika benar-benar dibawa ke sini, calon pembeli perlu mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, ketersediaan jaringan pengisian cepat 800 Volt di dalam negeri yang masih terbatas. Kedua, kualitas build setelah insiden benturan tersebut—apakah ada dampak jangka panjang pada sasis atau komponen lainnya. Ketiga, harga yang pasti akan kompetitif di kelasnya, mengingat strategi agresif merek China di pasar global.

Voyah memang berhasil mencuri perhatian, tapi bukan dengan cara yang mereka harapkan. Publik kini lebih fokus pada kegagalan yang hampir terjadi daripada keberhasilan aksi itu sendiri. Ini menjadi pengingat bahwa di era media sosial, transparansi jauh lebih berharga daripada kesempurnaan yang direkayasa.

Follow katajateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: oto.detik.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks