JAWA TENGAH — Hasil survei Bank of America (BofA) pada 7–13 Agustus 2026 menunjukkan porsi manajer investasi yang net underweight terhadap pasar Indonesia turun menjadi 27%, dari sebelumnya 32% pada Juli 2026. Survei melibatkan 98 manajer investasi dengan total aset kelolaan US$ 272 miliar.
Penguatan IHSG terjadi setelah Bank Indonesia mengambil langkah stabilisasi nilai tukar rupiah. Kekhawatiran investor terhadap kemungkinan penurunan status pasar modal Indonesia menjadi frontier market oleh MSCI juga mulai mereda.
India Kini Paling Tidak Disukai, Minim Eksposur AI Jadi Pemicu
Sebanyak 32% responden menyatakan net underweight terhadap saham India. Minimnya eksposur terhadap kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi kekhawatiran utama, disusul pertumbuhan ekonomi yang lemah sebagai risiko terbesar berikutnya.
Kurangnya reformasi dan valuasi saham yang dinilai tinggi turut memperkuat sikap bearish investor terhadap pasar saham terbesar keempat di Asia itu. Kondisi ini terjadi meskipun prospek pertumbuhan laba perusahaan India mulai membaik.
Dana Asing Justru Masuk ke India, Nifty 50 Masih Tertekan
Data Bloomberg mencatat dana asing telah membeli lebih dari US$ 4 miliar saham India sepanjang kuartal ini, yang merupakan angka terbesar di antara pasar negara berkembang Asia. Arus masuk ini terjadi setelah periode outflow besar di paruh pertama tahun ini.
Laba perusahaan dalam indeks NSE Nifty 50 melonjak 18% secara tahunan pada kuartal terakhir, jauh di atas perkiraan Motilal Oswal Financial Services Ltd sebesar 10%. Namun, Nifty 50 masih menjadi pasar saham utama dengan kinerja terburuk kedua di Asia sepanjang tahun ini, turun sekitar 8%.
Kenaikan Harga Energi Kembali Menekan Pasar India
India terakhir kali menjadi pasar paling tidak disukai dalam survei BofA pada Mei lalu. Pertumbuhan ekonomi India saat itu tertekan oleh kenaikan biaya energi setelah perang Amerika Serikat dan Iran memicu lonjakan harga minyak mentah.
Belum ada tanda-tanda penyelesaian konflik membuat harga energi kembali meningkat dan menekan sentimen investor. Nifty 50 sempat anjlok ke level 22.331 pada 20 Maret 2026, dan pada perdagangan Rabu (19/8) berada di posisi 24.078, masih di bawah level awal tahun 26.146.
Sementara itu, Taiwan dan Jepang tetap menjadi pasar yang paling disukai investor dalam survei tersebut. Indeks Nifty 50 berada di jalur untuk mengakhiri rekor kenaikan selama 10 tahun berturut-turut.