KEBUMEN — Penyaluran bantuan dilakukan sekitar dua minggu sekali, dengan setiap keluarga menerima sekitar 20 hingga 30 liter air untuk kebutuhan sementara. Jumlah itu jauh di bawah kebutuhan harian normal, sehingga warga tetap harus mencari sumber air sendiri di tengah musim kemarau.
Kekeringan di Kalipranji bukan kali pertama terjadi. Wilayah pegunungan di utara Kebumen dikenal sebagai salah satu titik paling rentan saat musim kemarau panjang, karena sumber mata air permukaan mengering lebih cepat dibanding daerah dataran rendah.
Berapa Banyak Warga yang Terdampak Krisis Air di Kebumen?
Data BPBD Kabupaten Kebumen menunjukkan krisis air bersih tidak hanya melanda Kalipranji. Sebanyak 67 desa yang tersebar di 17 kecamatan tercatat mengalami kondisi serupa.
Angka itu menempatkan kekeringan sebagai persoalan lintas kecamatan, bukan sekadar kasus tunggal di satu dukuh. Sebagian besar desa terdampak berada di wilayah perbukitan dan pelosok yang belum terhubung jaringan perpipaan.
Bupati Kebumen Lilis Nuryani mengimbau masyarakat menggunakan air secara hemat selama musim kemarau. Ia juga mengingatkan warga tidak membuang puntung rokok sembarangan untuk mengurangi risiko kebakaran lahan.
Apa Langkah Jangka Panjang Pemkab Kebumen Hadapi Kekeringan?
Pemkab Kebumen menyiapkan sejumlah upaya struktural agar persoalan kekeringan tidak berulang setiap tahun. Salah satunya perluasan jaringan air bersih berbasis masyarakat melalui program PAMSIMAS.
Program itu dinilai dapat memperluas akses air bersih bagi warga di wilayah rawan kekeringan. Pemkab juga mendorong pembangunan jaringan pipanisasi untuk menjangkau desa-desa yang selama ini bergantung pada sumber air alami.
Langkah lain yang disiapkan adalah pembangunan embung dan waduk sebagai tempat penampungan air hujan. Embung berfungsi menampung cadangan air saat musim penghujan, lalu dimanfaatkan ketika kemarau tiba.
Mengapa Bantuan Air Bersih Belum Cukup
Pasokan 5.000 liter per dua minggu memang membantu, tetapi sifatnya sementara. Dengan 30 keluarga penerima, distribusi itu hanya menutup kebutuhan dasar beberapa hari, bukan solusi permanen.
Warga Kalipranji tetap menghadapi keterbatasan air bersih sepanjang musim kemarau. Perjalanan hampir 3 kilometer ke pegunungan menjadi rutinitas harian yang menyita waktu dan tenaga, terutama bagi perempuan dan anak-anak.
Perluasan jaringan air bersih dan pembangunan embung diharapkan memangkas jarak tempuh warga. Namun hingga upaya jangka panjang itu rampung, ketergantungan pada bantuan air bersih dan sumber alami di pegunungan masih menjadi tumpuan utama warga Dukuh Kalipranji.