SEMARANG — Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti membuka pameran yang menyasar generasi muda yang tidak mengalami langsung masa perjuangan kemerdekaan. Menurutnya, dokumentasi visual dan benda bersejarah memberi gambaran lebih utuh tentang peristiwa yang terjadi di kota itu.
Delapan artefak yang ditampilkan mencakup senjata dan pakaian pejuang. Materi pameran tidak hanya berasal dari koleksi Pemerintah Kota Semarang, tetapi juga dari koleksi pribadi warga.
Apa Saja yang Dipamerkan di Lawang Sewu?
Total 64 bahan sejarah terbagi dalam tiga kategori. Sembilan arsip koran menjadi bagian pertama, disusul 47 arsip foto yang dilengkapi narasi, dan delapan artefak bersejarah.
Sejumlah foto yang dipajang merupakan koleksi baru hasil perolehan 2025 dan 2026. Tambahan dokumentasi itu memperkaya gambaran soal situasi pertempuran serta tokoh-tokoh yang terlibat.
Salah satu koleksi berasal dari Rumah Pohan. Materi tersebut direproduksi untuk ditampilkan ke publik, sementara foto aslinya tetap disimpan sebagai koleksi pribadi pemiliknya.
Peran Pemuda dan Perempuan Jadi Fokus Pameran
Pameran ini secara khusus menyoroti kontribusi pemuda dan perempuan dalam Pertempuran Lima Hari. Identitas tokoh yang terlibat, situasi perjuangan, hingga peran mereka menjadi bagian sejarah yang ingin diperkenalkan kembali.
Agustina mengaku tertarik pada satu foto yang memperlihatkan seorang ibu melindungi tiga anaknya dari ancaman pasukan penjajah. Baginya, foto itu menunjukkan keberanian perempuan dalam menjaga keluarga sekaligus mempertahankan kemerdekaan.
"Foto itu berbicara mengenai bagaimana seorang mempertahankan kemerdekaan karena dia berani menatap segerombolan pasukan, itu bagi saya menarik," tuturnya.
Kesaksian Pelaku dan Saksi Hidup
Pameran juga menghadirkan tokoh-tokoh pejuang yang menjadi pelaku maupun saksi hidup Pertempuran Lima Hari di Semarang. Kehadiran mereka diharapkan memperkaya pemahaman masyarakat melalui pengalaman dan kesaksian langsung.
Agustina menilai rangkaian dokumentasi foto dan benda bersejarah ini melengkapi kepingan sejarah yang selama ini tersebar. Masyarakat diajak melihat langsung kondisi Semarang pada masa pertempuran melalui gambar yang dipamerkan.
"Dari pameran ini, semakin melengkapi kepingan sejarah, kita bisa melihat dari sebuah gambar mengenai pertempuran kala itu sesungguhnya," kata Agustina, Rabu (14/10/2026).
Pameran berlangsung tiga hari di Gedung Lawang Sewu. Warga yang ingin melihat koleksi arsip koran, foto, dan artefak perjuangan dapat datang langsung selama periode tersebut.