JAWA TENGAH — Nilai ekspor minyak mentah Rusia melalui jalur laut menembus sekitar USD2,39 miliar atau setara Rp42 triliun setiap pekan dalam periode empat pekan hingga 27 September 2026. Lonjakan itu terjadi di tengah harga minyak global yang melonjak akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah, sementara sanksi Barat belum mampu menekan aliran energi Moskow ke pasar dunia.
Bloomberg mencatat volume pengiriman minyak mentah Rusia lewat laut rata-rata mencapai sekitar 3,71 juta barel per hari sepanjang periode tersebut. Angka itu menjadi yang tertinggi sejak awal Agustus dan menandai bahwa pembeli utama masih menyerap pasokan Rusia meski tekanan diplomatik dari Eropa terus menguat.
Pada pekan yang berakhir 27 September 2026, nilai bruto minyak mentah yang dikapalkan dari pelabuhan Rusia bahkan melonjak ke sekitar USD2,75 miliar atau setara Rp49 triliun. Kombinasi harga minyak yang lebih tinggi dan peningkatan volume pengiriman menjadi dua pendorong utama lonjakan nilai ekspor tersebut.
Sanksi Uni Eropa dan Tekanan Politik Jerman
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul mendesak negara-negara Eropa mempercepat pengurangan ketergantungan terhadap energi Rusia. Seruan itu disampaikan saat ia berkunjung ke Slovakia pada 29 September, mencerminkan bahwa tekanan politik terhadap Moskow masih berlangsung keras.
"Ancaman terbesar terhadap kebebasan benua kami datang dari Moskow. Bahaya terbesar bagi Eropa adalah imperialisme agresif (Presiden Rusia Vladimir) Putin," kata Wadephul.
Pernyataan itu menegaskan bahwa upaya Eropa memutus rantai pasokan energi Rusia belum sepenuhnya berhasil. Sejumlah negara anggota Uni Eropa masih menyerap minyak Rusia melalui jalur alternatif, termasuk pengiriman laut yang sulit dipantau secara ketat.
Harga Minyak Global Jadi Penopang Nilai Ekspor
Kenaikan nilai ekspor minyak Rusia tidak lepas dari lonjakan harga minyak dunia. Gangguan pasokan dari Timur Tengah membuat harga minyak mentah global naik, sehingga nilai setiap barel yang dikapalkan Rusia ikut terdongkrak.
Efeknya, penerimaan negara Rusia dari sektor energi tetap besar meski negara-negara Barat berulang kali memperketat sanksi. Dalam periode empat pekan hingga 27 September, rata-rata nilai ekspor mingguan bertahan di kisaran USD2,39 miliar.
Dampak bagi Pasar Energi dan Negara Pengimpor
Bagi negara pengimpor, terutama di Asia, pasokan minyak Rusia masih menjadi opsi yang kompetitif dari sisi harga. Diskon yang ditawarkan Moskow membuat sejumlah pembeli tetap berminat, meski menghadapi risiko sanksi sekunder dari Amerika Serikat dan Uni Eropa.
Bagi pelaku pasar energi, kondisi ini menjaga pasokan global tetap lebih longgar di tengah ketegangan di Timur Tengah. Namun, harga minyak yang tinggi sekaligus menguntungkan Rusia dari sisi penerimaan devisa.
Pemerintah Eropa menghadapi dilema antara menekan penerimaan Rusia dan menjaga pasokan energi domestik. Percepatan transisi energi dan diversifikasi pemasok menjadi dua jalur yang terus didorong, tetapi hasilnya belum terlihat signifikan dalam jangka pendek.
Bagi Rusia, tingginya nilai ekspor minyak melalui laut menunjukkan bahwa sanksi yang ada belum cukup memutus aliran dana ke kas negara. Selama harga minyak global bertahan tinggi, penerimaan Moskow dari sektor energi diperkirakan tetap kuat.