SEMARANG — Gundukan sampah yang masih panas di TPA Jatibarang kini dipindahkan, dibongkar, lalu disebar memakai beko. Langkah itu menggantikan cara lama yang hanya mengandalkan penyemprotan air pada hari-hari pertama kebakaran.
Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng mengatakan pemindahan material panas itu ditangani tim gabungan lintas dinas. Dinas Lingkungan Hidup, Distaru, Disperkim, dan Damkar Kota Semarang bekerja bersama di lokasi.
Mengapa Bara di Dalam Timbunan Sulit Dipadamkan
Agustina menjelaskan, bara yang berada di bagian dalam timbunan sampah berpotensi kembali menyala di titik berbeda. Kondisi itu membuat proses pemadaman jadi lebih rumit dan berulang.
"Memindahkan gundukan panas lalu diterima teman-teman beko dari Perkim. Diturunkan, disebar. Itu memadamkan cepat," kata Agustina.
Menurutnya, pendekatan pada hari pertama dan kedua kebakaran berbeda. Saat itu petugas hanya menyiram bara dengan air tanpa membongkar timbunan.
"Yang di hari pertama, kedua kan cuma dipadamkan, pindah ke sini, sini nyala lagi," ujarnya.
Gas Metana Perbesar Risiko Api Muncul Kembali
Bara di dalam timbunan berkaitan dengan keberadaan gas metana di area TPA. Gas itu memperbesar peluang munculnya kembali api meski permukaan sudah tampak padam.
Karena itu, pembongkaran dan penyebaran timbunan dipilih untuk membuka bagian yang masih menyimpan panas. Proses pendinginan pun bisa dilakukan lebih menyeluruh, tidak hanya di lapisan atas.
Pemkot Semarang turut berharap hujan turun di kawasan TPA Jatibarang. Air hujan dinilai membantu menurunkan suhu sekaligus menekan keberadaan gas metana.
Alat Berat Dikerahkan, Penanganan Masih Berlanjut
Beko dari Disperkim dikerahkan untuk memindahkan gundukan panas ke area yang lebih terbuka. Setelah disebar, material yang masih mengandung bara didinginkan secara bertahap.
Tim gabungan masih bersiaga di lokasi untuk memantau titik-titik yang berpotensi menyala kembali. Penanganan bara di TPA Jatibarang belum sepenuhnya selesai dan bergantung pada kondisi cuaca setempat.