Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menegaskan pembelajaran bahasa daerah tidak boleh berhenti sebagai mata pelajaran muatan lokal di sekolah. Saat membuka Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 tingkat Jawa Tengah di Kabupaten Semarang, ia menyebut pembiasaan penggunaan bahasa daerah sehari-hari jauh lebih penting ketimbang sekadar diajarkan di kelas. Festival yang digelar sehari itu diikuti 560 siswa SD dan SMP dari berbagai daerah di Jawa Tengah.
SEMARANG — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu'ti menilai pelestarian bahasa daerah butuh pendekatan yang lebih luas dari sekadar memasukkan bahasa daerah sebagai pelajaran muatan lokal. Menurutnya, kebiasaan menggunakan bahasa daerah di rumah, di forum resmi pemerintah, hingga di pertemuan tingkat warga menjadi kunci utama agar bahasa ibu tetap hidup.
"Itu sangat penting. Tetapi yang jauh lebih penting adalah membiasakan menggunakan bahasa daerah," kata Mu'ti saat membuka Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 di Kabupaten Semarang, Jumat.
Ia menekankan bahasa pada dasarnya soal kebiasaan. Karena itu, pembiasaan harus dibangun terus-menerus, bukan hanya lewat jam pelajaran di sekolah.
Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 Jadi Ajang Pembiasaan
Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 tingkat Jawa Tengah digelar sehari, Sabtu (10/10). Kegiatan ini diikuti 560 siswa SD dan SMP beserta pendamping dari sejumlah kabupaten dan kota di Jawa Tengah.
Ada tujuh mata lomba yang dipertandingkan: menulis dan membaca aksara Jawa, mendongeng, berpidato, menulis cerkak, membaca geguritan, nembang macapat, dan komedi tunggal.
Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Hafidz Muksin menyebut festival ini efektif menanamkan kecintaan, kebanggaan, dan kemampuan berbahasa daerah melalui jalur pendidikan.
"Kegiatan ini menurut kami sangat efektif, karena bagaimana menanamkan kecintaan, kebanggaan, dan juga kemampuan berbahasa daerah melalui jalur pendidikan," katanya.
Bahasa Daerah Dinilai Bantu Pemahaman Siswa di Kelas Awal
Hafidz menjelaskan pembelajaran di kelas awal dengan menggunakan bahasa daerah dapat meningkatkan pemahaman peserta didik. Siswa lebih mengenal bahasa ibunya sehingga materi pembelajaran kontekstual lebih mudah dipahami.
"Karena mereka lebih mengenal bahasa ibunya sehingga pada saat diberikan materi pembelajaran secara kontekstual mereka lebih memahaminya. Ini sangat efektif," ujarnya.
Mu'ti menambahkan forum semacam ini punya peran besar di tengah dunia yang semakin terbuka. Ia menyoroti generasi muda, terutama gen Z dan gen alpha, yang dinilainya sudah agak tercerabut dari akar tradisi dan budaya, termasuk bahasa daerah.
"Forum seperti ini menjadi sangat penting di tengah dunia yang semakin terbuka ketika banyak generasi muda, gen Z dan gen alpha sudah agak tercerabut dari akar tradisi dan budaya luhur bangsanya, termasuk bahasa daerah," katanya.
Ia menegaskan bahasa daerah merupakan kekayaan bangsa Indonesia. Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen memajukan kebudayaan nasional dan bahasa sesuai amanat UUD 1945.
Pemprov Jateng Terapkan Bahasa Jawa Setiap Kamis
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen menyatakan dukungan penuh terhadap kegiatan pelestarian bahasa daerah. Pemprov Jateng, katanya, setiap hari Kamis menggunakan bahasa Jawa dalam lingkungan kerja.
"Karena kami setiap hari Kamis juga memakai bahasa Jawa, makanya itu masih ada, masih kita pakai, dan ketika kita memakai bahasa Jawa itu kita membuka jati diri," kata Gus Yasin, sapaan akrabnya.
Menurut Gus Yasin, bahasa Jawa mengandung nilai tata krama yang terbentuk secara naluri saat digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Nilai itu yang dinilainya penting terus diwariskan ke generasi muda.
Festival Tunas Bahasa Ibu 2026 menjadi salah satu rangkaian upaya pemerintah daerah dan pusat menjaga bahasa daerah tetap dipakai, bukan hanya dipelajari sebagai materi ujian.