JAWA TENGAH — Mata uang Garuda turun 0,03 persen dibandingkan posisi penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini terjadi saat mayoritas mata uang Asia justru menunjukkan penguatan terhadap dolar AS, menciptakan tekanan tersendiri bagi rupiah di pasar spot.
Kontras dengan Mata Uang Asia Lainnya
Penguatan terjadi di hampir seluruh kawasan Asia pada pagi ini. Yen Jepang memimpin apresiasi dengan kenaikan 0,72 persen, disusul won Korea Selatan yang naik 0,63 persen dan peso Filipina yang menguat 0,16 persen.
- Dolar Singapura menguat 0,12 persen
- Ringgit Malaysia terapresiasi 0,02 persen
- Yuan China melemah tipis 0,01 persen
- Dolar Hong Kong bergerak datar
Kondisi berbeda terlihat di negara maju. Euro dan poundsterling kompak menguat, masing-masing 0,10 persen dan 0,05 persen, sementara dolar Australia justru terkoreksi 0,03 persen.
Dua Sinyal Berlawanan di Pasar Global
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai pergerakan rupiah hari ini akan bersifat konsolidatif. Tidak ada rilis data ekonomi penting dari dalam maupun luar negeri yang bisa menjadi katalis pergerakan signifikan.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS di tengah absennya data ekonomi penting, baik dari internal maupun eksternal hari ini. Walau rupiah mungkin didukung oleh indeks dolar yang terpantau terkoreksi, namun harga minyak mentah dunia yang masih naik akibat eskalasi di Timur Tengah membebani," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Dua kekuatan berlawanan ini membuat pergerakan rupiah diperkirakan terbatas. Koreksi indeks dolar memberikan ruang apresiasi, tetapi kenaikan harga minyak meningkatkan kebutuhan devisa untuk impor energi.
Rentang Perdagangan Hari Ini
Lukman memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam rentang sempit Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS sepanjang perdagangan Selasa. Level ini menunjukkan pasar masih menunggu arah yang lebih jelas dari perkembangan geopolitik dan data ekonomi global pekan ini.
Investasi mengandung risiko.