Bupati Batang Faiz Kurniawan menyambut baik langkah sejumlah SMK yang menggandeng TNI untuk menempa kedisiplinan siswa, seiring kebutuhan tenaga kerja terampil di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB). Ia menegaskan penyesuaian kurikulum dan pembaruan alat praktik menjadi kunci agar lulusan tidak hanya lulus, tetapi langsung terserap industri.
BATANG — Fenomena tingginya angka pekerja keluar sebelum masa kontrak usai menjadi perhatian serius dalam forum Ngopeni SMK yang digelar di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), Kamis (20/8). Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Tengah, Sadimin, menyebut angka bongkar-pasang pekerja atau turnover lulusan SMK di Jateng mencapai 4 hingga 10 persen.
Ia mengaitkan kondisi itu dengan lemahnya etos kerja, daya juang yang rendah, hingga persoalan kedisiplinan. “Kalau bekerja ya harus tahan lama. Berdiri itu delapan jam ya biasanya, harus kuat itu. Kalau tidak kuat kan repot, maka cara fisiknya harus kita kuatkan,” tegasnya.
Kerja Sama TNI-Sekolah untuk Bangun Karakter dan Fisik Siswa
Menjawab persoalan tersebut, sejumlah SMK di Kabupaten Batang mulai menggandeng TNI untuk melatih fisik dan mental siswa. Langkah ini diharapkan membentuk lulusan yang berkarakter unggul, bukan sekadar kompeten secara teknis.
“Ngopeni SMK ini dengan tujuan bagaimana anak-anak SMK itu memiliki karakter yang unggul. Selain kompetensi yang unggul, juga karakter yang unggul,” kata Sadimin.
Pelatihan kedisiplinan ala militer ini dinilai penting karena tuntutan industri seringkali membutuhkan ketahanan ekstra. Suasana kerja pabrik yang menuntut ketahanan fisik delapan jam berdiri jauh berbeda dengan kenyamanan di bangku sekolah.
KITB Butuh Pasokan Tenaga Kerja yang Siap dan Tahan Banting
Bupati Batang Faiz Kurniawan menuturkan, kehadiran KITB membutuhkan pasokan tenaga kerja terampil dalam jumlah besar. Namun, kualitas menjadi syarat mutlak agar para pekerja tidak “tumbang” di tengah jalan.
“Ini akan mentrigger link and match antara kebutuhan industri dengan kurikulum SMK. Sehingga kita berharap ke depan lulusan SMK ini benar-benar langsung bisa terabsorbsi,” ujar dia.
Pemkab Batang menilai penyesuaian kurikulum dan pembaruan alat praktik di SMK merupakan kunci utama. Ijazah dan keahlian teknis saja tidak lagi cukup untuk menembus persaingan dunia kerja di tengah derasnya investasi industri.
DPRD Dorong Forum Dialog Pendidikan dan Industri Digelar Masif
Wakil Ketua III DPRD Jateng Mohammad Saleh mendorong ruang dialog seperti Ngopeni SMK ini digelar lebih masif di seluruh wilayah. Menurutnya, pergerakan teknologi yang cepat mengubah peta kebutuhan tenaga kerja.
“Banyak ke depan pekerjaan-pekerjaan yang mungkin akan hilang, pekerjaan-pekerjaan baru pun juga pasti akan muncul. Nah, saya kira ini perlu. Dengan forum semacam ini akan ada komunikasi antara dunia pendidikan dengan dunia industri,” jelasnya.
Forum ini menjadi jembatan bagi sekolah untuk memahami kebutuhan riil industri, sekaligus bagi industri untuk menyampaikan standar kompetensi yang diharapkan dari calon pekerjanya.