UNGARAN — Pujiati (37) tak menyangka pesanan 120 porsi bakso untuk acara nobar final Piala Dunia 2026 ludes kurang dari dua jam. Penjual bakso keliling asal Desa Leyangan, Kecamatan Ungaran Timur ini harus kembali berjualan pada malam hari setelah biasanya hanya beroperasi dari pagi hingga sore.
“Alhamdulillah, saya mendapat pesanan 120 porsi bakso. Tidak sampai dua jam semuanya sudah habis dinikmati penonton nobar,” ujarnya kepada wartawan di lokasi.
Pujiati mengaku sempat menambah stok bahan baku untuk memenuhi pesanan panitia. Namun, seluruh dagangan habis lebih cepat dari perkiraan, sehingga ia tak perlu berjualan hingga larut malam.
Gotong Royong Tanpa Anggaran Daerah
Acara nonton bareng yang berlangsung di lapangan tenis kompleks DPRD Kabupaten Semarang ini merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Semarang, DPRD setempat, KONI, Karang Taruna, dan Koramil Ungaran. Seluruh biaya kegiatan murni berasal dari donatur, tanpa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).
Ketua DPRD Kabupaten Semarang, Bondan Marutohening, mengatakan pihaknya sengaja memberdayakan UMKM di sekitar gedung DPRD agar manfaat kegiatan bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Semua kegiatan malam ini murni hasil gotong royong. Kami juga sengaja memberdayakan UMKM di sekitar DPRD agar mereka ikut merasakan manfaat dari acara ini,” kata Bondan.
Hidangan Gratis hingga Musik Sukarela
Panitia memborong makanan dari sejumlah pedagang lokal, mulai dari penjual bakso, mi ayam, nasi goreng, hingga angkringan. Seluruh hidangan disediakan gratis bagi ratusan penonton yang memadati area nobar.
Selain menyajikan kuliner, acara juga dimeriahkan penampilan grup band dan komunitas musik dari Kabupaten Semarang maupun Kota Semarang. Para musisi tampil secara sukarela tanpa dibayar.
Melalui kegiatan ini, nobar final Piala Dunia 2026 tidak hanya menjadi ajang kebersamaan pecinta sepak bola, tetapi juga menggerakkan roda perekonomian pelaku UMKM lokal di Kabupaten Semarang.