JAWA TENGAH — Modus penipuan berkedok arisan kembali menjadi perhatian di tengah masih rendahnya literasi keuangan sebagian masyarakat. Perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi (MRE) Andi Nugroho mengingatkan, tawaran keuntungan yang tidak masuk akal kerap menjadi pintu masuk utama skema ini.
"Keuntungan yang akan didapat oleh peserta arisan tidak realistis, bisa dua atau tiga kali lipat dari uang yang disetorkan padahal waktu perputarannya relatif singkat," ujar Andi kepada CNNIndonesia.com, Senin (24/8).
Skema ponzi kerap bersembunyi di balik nama arisan. Perencana keuangan Oneshildt Budi Rahardjo menjelaskan, salah satu pembeda paling mencolok dengan arisan konvensional adalah perilaku pengelolanya yang masif mencari anggota baru.
"Mengenalinya cukup mudah, biasanya arisan ini sistemnya mencari anggota di mana saja secara agresif. Padahal biasanya arisan hanya untuk orang-orang terdekat yang saling mengenal," kata Budi.
Selain dua hal tersebut, sejumlah indikator lain patut membuat calon peserta berpikir dua kali sebelum menitipkan uang:
Tanda paling serius muncul ketika pembayaran kemenangan arisan mulai tersendat. Andi menilai admin yang memundurkan jadwal pencairan atau menghilang saat jatuh tempo merupakan indikator kuat arisan tersebut bermasalah.
Budi menegaskan, keterlambatan pembayaran tersebut bukan lagi sekadar tanda bahaya, melainkan bukti sistem yang dijalankan sudah kolaps. "Ketika pembayaran sudah mulai terhambat, maka itu sudah menunjukkan bahwa sistem arisan sudah gagal," ujarnya.
Andi menyarankan masyarakat tidak mudah tergiur iming-iming hasil besar dalam waktu cepat. Sebelum bergabung, calon peserta wajib memastikan admin mampu menjelaskan skema secara gamblang dan masuk akal.
Prioritas utama adalah memilih arisan yang seluruh pesertanya dikenal. Jika ada anggota asing, sempatkan berkomunikasi dan berkenalan terlebih dahulu untuk memastikan kredibilitas kelompok tersebut.
Budi menambahkan, ajakan dari orang terdekat pun tidak boleh serta-merta membuat seseorang lengah. "Jangan mudah tergiur iming-iming hadiah yang menggiurkan, perhatikan seberapa agresif orang yang menawarkan arisan, apalagi jika pengelolanya adalah orang yang tidak dikenal. Meskipun yang mengajak adalah orang terdekat entah teman, saudara, kerabat atau lainnya," jelas Budi.
Menurut Budi, korban arisan bodong biasanya berasal dari dua kelompok: mereka yang spekulatif dan masyarakat yang belum memahami pola skema mencurigakan. "Korban-korban baru juga akan selalu ada di masa yang akan datang. Inovasi sistem arisannya pun bisa bertransformasi mengikuti perkembangan zaman," pungkasnya.