SEMARANG — Lonjakan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jawa Tengah selama musim kemarau 2026 memicu kewaspadaan tingkat tinggi. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah mencatat 232 kejadian karhutla terjadi hingga 23 Agustus 2026, atau melonjak sekitar 700 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Dari total kejadian tersebut, sedikitnya 194 hektare lahan dan 213 hektare hutan hangus terbakar. BPBD juga mencatat kebakaran melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) seluas 2,17 hektare. Total taksiran kerugian akibat rangkaian karhutla ini mencapai sekitar Rp23 miliar.
Kabupaten Klaten menempati posisi teratas dengan 31 kejadian karhutla, disusul Sragen dengan 30 kejadian, dan Sukoharjo dengan 18 kejadian. Wilayah lain yang mencatat angka signifikan antara lain Wonogiri (17 kejadian), Boyolali (16 kejadian), dan Blora (14 kejadian).
Kabupaten Semarang mencatat 13 kejadian, Banyumas 10 kejadian, Kudus 10 kejadian, serta Kota Tegal sebanyak 8 kejadian. Sebaran ini menunjukkan karhutla mengancam hampir seluruh wilayah di Jawa Tengah.
Kepala BPBD Jawa Tengah Bergas Catursasi Penanggungan menjelaskan, kebakaran didominasi lahan pertanian, khususnya perkebunan tebu, serta semak belukar yang mengering. Penyebab utamanya diduga kuat berasal dari aktivitas manusia atau human error.
“Kebakaran lahan didominasi kebakaran lahan pertanian khususnya tebu dan semak belukar. Penyebabnya diduga karena human error, untuk lahan tebu biasanya untuk membersihkan selasar tebu saat panen,” ujar Bergas saat dihubungi, Senin (24/8/2026).
Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen mengakui karhutla masih terjadi di sejumlah daerah, termasuk Wonogiri dan Kudus. Ia mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan dan menghentikan kebiasaan yang berpotensi memicu api.
“Kita harus antisipasi, kita harus menjaga betul. Kalau merokok jangan buang puntung rokok asal lempar, karena bisa menyebabkan kebakaran,” kata Taj Yasin seusai mendampingi Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi di Gedung Gradhika Bhakti Praja Semarang, Senin (24/8/2026).
Sepanjang 1 Januari hingga 23 Agustus 2026, BPBD Jawa Tengah mencatat total 547 kejadian kebakaran di provinsi ini. Rinciannya, 232 kejadian merupakan karhutla, sementara 315 kejadian lainnya adalah kebakaran gedung dan permukiman.
Bergas menyebut peningkatan karhutla terlihat jelas seiring memasuki periode musim kemarau, terutama pada Juni, Juli, dan Agustus. Kondisi kemarau yang semakin panas meningkatkan risiko kebakaran pada lahan kering dan mudah terbakar.
Pemerintah daerah bersama BPBD terus mendorong upaya pencegahan agar kebakaran hutan dan lahan tidak semakin meluas. Masyarakat diminta tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api, termasuk membakar lahan tanpa pengawasan.