JAWA TENGAH — Data Kementerian Pariwisata menunjukkan realisasi investasi sektor ini mencapai Rp73,56 triliun sepanjang 2025. Angka itu menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah. Masalahnya, sebarannya belum merata.
Jakarta dan Bali Masih Mendominasi
Sekitar 76,5 persen investasi pariwisata terpusat di Jakarta dan Bali. Dari jumlah tersebut, 75 persen berbentuk pembangunan hotel dan restoran.
"Karenanya kami saat ini melakukan diversifikasi investasi di destinasi prioritas lainnya di luar Bali dan Jakarta," kata Widiyanti dalam keterangan resmi yang dikonfirmasi di Jakarta, Jumat.
Danau Toba hingga Labuan Bajo Jadi Andalan Baru
Sejumlah destinasi di luar Jawa dan Bali menunjukkan pertumbuhan kunjungan yang kuat pada awal 2026. Kunjungan wisatawan ke Danau Toba tumbuh lebih dari 106 persen. Lombok–Gili Tramena meningkat 72,1 persen.
Labuan Bajo juga terus mencatatkan pertumbuhan dan dinilai punya prospek pengembangan investasi pariwisata. Pergeseran pola perjalanan wisatawan yang tidak lagi berpusat di Jawa dan Bali membuka peluang pemerataan investasi lebih luas.
Widiyanti menilai diversifikasi ini akan memperluas manfaat ekonomi sektor pariwisata melalui penciptaan lapangan kerja, pengembangan usaha, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Insentif yang Disiapkan Pemerintah
Melalui dukungan KADIN Indonesia, Kementerian Pariwisata ingin mengarahkan investasi ke sektor yang lebih beragam di luar hotel dan restoran. Fokusnya infrastruktur pendukung aksesibilitas, seperti marina kapal pesiar, serta pengembangan daya tarik wisata baru.
"Pemerintah menyediakan berbagai fasilitas kemudahan, mulai dari pengurangan pajak penghasilan (tax allowance), insentif bagi industri padat karya, hingga pembebasan bea masuk untuk peralatan wisata dan yacht," kata Widiyanti.
Sumatera Barat dan Konektivitas Udara Masuk Radar
Forum itu juga membahas tiga klaster peluang investasi di Sumatera Barat. Ketiganya wisata berselancar di Mentawai, wisata bahari di Padang dan Mandeh, hingga wisata berbasis sejarah dan budaya di Sawahlunto.
Penguatan konektivitas melalui udara turut didorong untuk mempermudah perjalanan wisatawan. Pembahasan mencakup pengembangan infrastruktur wisata bahari dan hyperbaric chamber atau ruang hiperbarik untuk mempromosikan lokasi selam di Indonesia.
Pariwisata Dinilai Layak Dapat Porsi Lebih Besar
Wakil Ketua Umum Koordinator Bidang Luar Negeri KADIN Indonesia James Riady menyebut pariwisata menjadi salah satu sektor dengan pertumbuhan signifikan di tengah tekanan ekonomi. Indonesia dinilai unik karena tidak harus berinvestasi pada aset lebih dulu.
"Satu karakteristik khusus lainnya dari pariwisata, ia menyentuh masyarakat dengan sangat cepat. Setiap investasi menciptakan lapangan kerja. Itulah mengapa kami percaya bahwa pariwisata layak mendapatkan porsi yang jauh lebih besar dalam strategi pertumbuhan Indonesia," kata James.
Tantangannya, mengubah potensi pantai, laut, lokasi menyelam, hutan, dan budaya menjadi jumlah kedatangan wisatawan, lama tinggal, pengeluaran, investasi, lapangan kerja, dan kunjungan berulang.