SEMARANG — Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta seluruh jajaran pemerintah daerah tidak terjebak pada pencapaian statistik semata. Instruksi itu mengemuka setelah ia mendengarkan arahan Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Paripurna DPRD Jateng, Jumat (14/8/2026).
“Kita telah mendengarkan pidato Pak Presiden. Intinya, kita harus bekerja keras untuk rakyat. Artinya, kita harus selalu mendengarkan apa yang dirasakan oleh masyarakat kita,” kata Luthfi didampingi Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen.
Pesan ini ditekankan Luthfi di tengah optimisme data ekonomi regional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencapai 5,71 persen secara tahunan pada triwulan II 2026, lebih tinggi dari rata-rata nasional.
Angka Kemiskinan Turun, Pekerjaan Rumah Masih Besar
Meski tren ekonomi membaik, Luthfi mengingatkan masih ada sekitar 3,9 juta warga Jateng yang berada pada kelompok desil 1 hingga 4 atau rentan miskin. Angka kemiskinan provinsi tercatat 9,21 persen pada Maret 2026, turun tipis dari 9,48 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
“Pembangunan harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Jangan sampai capaian hanya bagus di atas kertas, tetapi tidak dirasakan di bawah,” ujarnya.
Penurunan 0,27 persen poin itu dinilai belum cukup. Pemprov Jateng disebut akan memfokuskan intervensi pada perluasan akses layanan dasar dan penguatan ekonomi produktif bagi warga di lapisan bawah.
Arah Kebijakan: Terjemahkan Capaian Nasional ke Kerja Konkret
Dalam pidato kenegaraan, Presiden Prabowo memaparkan sejumlah program prioritas nasional, mulai dari Makan Bergizi Gratis (MBG), pembangunan infrastruktur, hingga penguatan swasembada pangan. Indonesia disebut telah mencapai swasembada delapan komoditas strategis, termasuk beras, jagung, dan cabai.
Bagi Luthfi, capaian di tingkat pusat tersebut harus memiliki korelasi langsung dengan kebutuhan warga di daerah. Ia menegaskan seluruh kebijakan Pemprov Jateng harus bermuara pada satu tujuan utama: peningkatan kesejahteraan.
“Itu semua adalah untuk kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Modal Optimisme di Tengah Ketidakpastian
Pertumbuhan ekonomi 5,80 persen secara kumulatif pada Semester I 2026 dinilai menjadi modal berharga. Capaian ini berada di atas rata-rata nasional dan menjadi penyeimbang di tengah keterbatasan fiskal serta ketidakpastian geopolitik global.
Pemprov Jateng menegaskan komitmennya untuk menjaga ritme pembangunan agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, bukan sekadar tercatat dalam laporan resmi pemerintah.