SEMARANG — Ribuan warga dari anak-anak hingga orang dewasa tampil kompak mengenakan busana bernuansa merah putih di kawasan Simpang Lima, Minggu pagi (9/8). Mereka membawakan Tari Dug Dug Der Semarangan, sebuah tari kreasi baru yang terinspirasi dari tradisi Dugderan, dalam rangkaian pembukaan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Semarang.
Para penari perempuan tampil mengenakan kebaya encim Semarangan, sementara penari laki-laki memakai atasan putih dan bawahan merah yang dipadukan dengan iket gagrak khas Semarang. Mereka berasal dari kalangan pelajar, mahasiswa, aparatur sipil negara (ASN), komunitas, sanggar tari, hingga organisasi kemasyarakatan.
Rekor LEPRID dan Semangat Melestarikan Budaya
Ketua Umum LEPRID Paulus Pangka mengapresiasi gelaran tersebut. Menurutnya, keterlibatan puluhan ribu orang menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat Semarang.
"Hari ini kita melakukan penciptaan dan pemecahan rekor LEPRID, yaitu menari Dugder Semarang yang diikuti 25 ribu peserta. Mereka terdiri dari pelajar, OPD, LSM, mahasiswa, dan seluruh elemen masyarakat," katanya.
Paulus menambahkan, pencatatan rekor bukanlah tujuan utama kegiatan. Ia menilai pertunjukan ini memiliki nilai edukasi yang besar bagi generasi muda untuk mengenal dan menjaga warisan budaya daerah.
"Anak-anak SMP, SMA, dan mahasiswa dididik supaya memiliki kepedulian terhadap budaya nenek moyangnya. Kegiatan seperti ini penting untuk meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa budaya dapat menyatukan kita," ungkapnya.
Kreasi Baru dari Tradisi Dugderan
Tari Dug Dug Der Semarangan merupakan hasil kreasi baru yang bersumber dari tradisi Dugderan, salah satu warisan budaya yang telah melekat lama di Kota Semarang. Wali Kota Semarang Agustina Wilujeng Pramestuti menegaskan bahwa pertunjukan ini bukan semata-mata untuk mengejar rekor.
"Budaya yang sudah hidup di Kota Semarang selama ratusan tahun ingin kita pertahankan. Salah satunya dengan mengumpulkan dan mengenalkan budaya itu kepada generasi muda," kata Agustina.
Paulus Pangka menjelaskan, tradisi Dugderan yang identik dengan Kota Semarang kini dikembangkan menjadi bentuk tari kreasi baru agar dapat diperkenalkan lebih luas. "Dugderan itu budaya khas Kota Semarang. Ini kemudian dibuat dalam bentuk tari kreasi baru. Tujuannya supaya masyarakat bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Dugderan merupakan salah satu kekayaan budaya Semarang," tuturnya.
Simpang Lima Menjadi Ikon Pertunjukan
Pemilihan Simpang Lima sebagai lokasi pertunjukan bukan tanpa alasan. Kawasan tersebut merupakan salah satu ikon Kota Semarang dan tengah dipersiapkan menjadi lokasi penyelenggaraan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Nasional.
Agustina menyebut keterlibatan pelajar dalam kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak usia dini. Menurutnya, kegiatan kebudayaan yang melibatkan generasi muda perlu terus digelar agar anak-anak tidak kehilangan kedekatan dengan tradisi daerah.
Dari sisi kesehatan, orang nomor satu di Semarang itu menilai kegiatan menari juga dapat menjadi alternatif aktivitas fisik masyarakat. "Kalau pagi, Simpang Lima biasanya menjadi tempat masyarakat berolahraga. Menari juga sama, bisa menjadi olahraga, tetapi dikemas dalam bentuk seni," ujarnya.
Rangkaian Kegiatan HUT ke-81 RI
Agustina menambahkan, peringatan kemerdekaan tahun ini tidak hanya diisi kegiatan seremonial. Pemkot Semarang menyiapkan sejumlah program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, termasuk kegiatan berbagi, potongan harga layanan, hingga layanan gratis BRT Trans Semarang.
"Ini dalam rangka pembukaan peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia di Kota Semarang. Ada berbagai kegiatan yang akan kami laksanakan, mulai dari berbagi, beberapa diskon pelayanan, sampai layanan gratis BRT. Informasinya nanti bisa dilihat melalui kanal resmi Kota Semarang," tuturnya.