JAWA TENGAH — Gelombang PHK di industri teknologi global terus berlanjut. Berdasarkan analisis Financial Times, perusahaan teknologi AS telah memangkas hampir 140.000 posisi sejak Januari 2026. Sekitar 50.000 dari jumlah itu berasal dari Amazon, Oracle, Meta, dan Microsoft saja, seiring perusahaan-perusahaan tersebut mengalokasikan dana ratusan miliar dolar untuk pembangunan pusat data AI.
Total PHK 2026: 140.000 Pekerja dan Daftar Perusahaan Terdampak
Data Financial Times menunjukkan tren PHK yang meluas. Oracle menjadi salah satu yang paling agresif: perusahaan memangkas 21.000 karyawan dalam 12 bulan terakhir, atau 13% dari total tenaga kerja. Dalam dokumen regulasi tahunan, Oracle secara eksplisit menyebut “adopsi dan penerapan teknologi AI” sebagai faktor pengurangan tenaga kerja.
Microsoft pada Juli 2026 memotong sekitar 4.800 peran, mayoritas di unit gaming Xbox. Perusahaan menawarkan paket pesangon sukarela tanpa mengungkap jumlah pasti yang terkena dampak. CFO Amy Hood mengatakan total jumlah karyawan menurun tahun-ke-tahun dan diperkirakan terus berkurang seiring fokus pada “tim berkinerja tinggi”.
Google, melalui divisi Cloud-nya, telah memangkas 1.500 hingga 3.000 lebih insinyur sepanjang 2026. Pemotongan dilakukan lewat proses evaluasi kinerja bergulir, program pesangon sukarela, dan restrukturisasi. Google tidak pernah mengumumkan angka tunggal, meskipun pendapatan Cloud naik 63% menjadi lebih dari US$20 miliar.
Perusahaan lain seperti GitLab (350 pekerja atau 14% staf) dan Intuit (3.000 pekerja atau 17% dari total) juga melakukan PHK dengan alasan investasi AI.
Monday.com: PHK 20% Karyawan demi Transformasi AI
Monday.com, perusahaan perangkat lunak manajemen proyek asal Tel Aviv, mengumumkan PHK sekitar 600 orang pada pekan lalu. Dalam pengajuan SEC, perusahaan menyebut langkah ini bagian dari “rencana restrukturisasi” yang terkait dengan transformasi produk, pemasaran, dan strategi pasar.
Co-founder Eran Zinman menyatakan dalam memo LinkedIn bahwa keputusan ini bukan untuk mengurangi biaya atau mengganti orang dengan AI, melainkan adaptasi organisasi menuju visi AI-first yang dicanangkan setahun lalu saat perusahaan melakukan rebranding. Monday.com memperkirakan biaya restrukturisasi bersih antara US$45 juta hingga US$55 juta (sekitar Rp742 miliar hingga Rp907 miliar), namun tetap memproyeksikan pertumbuhan pendapatan tahun-ke-tahun sebesar 20% pada 2026.
Reaksi Pasar: Saham Perusahaan PHK Justru Melemah
Menariknya, analisis Financial Times menemukan bahwa perusahaan yang menyebut AI sebagai faktor PHK justru mengalami kinerja saham di bawah Nasdaq hampir 10% dalam 30 hari perdagangan setelah pengumuman. Hal ini mengindikasikan pasar tidak sepenuhnya percaya pada narasi yang disampaikan perusahaan.
Sisi Lain: Perusahaan AI Justru Rekrut Besar-besaran
Meski PHK meluas, bukan berarti industri teknologi menyusut. Perusahaan AI seperti Anthropic dan OpenAI justru aktif merekrut, menyerap talenta dari perusahaan yang melakukan pemangkasan. Di internal Meta, sekitar 7.000 karyawan dipindahkan ke peran baru yang berfokus pada AI, sementara 8.000 lainnya di-PHK. IBM juga menyebut akan melipatgandakan perekrutan entry-level untuk peran AI dan hybrid cloud.
Fenomena ini menunjukkan bahwa di balik angka PHK yang besar, terjadi pergeseran tenaga kerja—bukan pengurangan total. Pekerja teknologi dengan keahlian AI menjadi semakin berharga, sementara peran tradisional terus dikompresi oleh otomatisasi dan investasi infrastruktur AI.