SEMARANG — Komitmen itu disampaikan Agustina saat menghadiri peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-89 Wayang Orang Ngesti Pandowo, Sabtu (18/7/2026) malam. Menurutnya, setiap kota wisata butuh identitas budaya yang khas dan mampu menjadi magnet utama bagi wisatawan.
"Kalau melihat beberapa pusat pariwisata dunia, tentu harus ada sesuatu yang berbeda dari tiap destinasi. Kota Semarang punya wayang orang dan masyarakatnya gemar menonton wayang," kata Agustina dalam sambutannya.
Kostum Baru untuk Menggantikan Busana Puluhan Tahun
Pemkot Semarang secara simbolis menyerahkan seperangkat busana wayang orang kepada Ketua Ngesti Pandowo, Joko Purnomo. Kostum anyar itu akan digunakan dalam setiap pementasan, menggantikan busana lama yang sudah dipakai selama puluhan tahun.
Agustina menjelaskan, penggantian kostum bukan sekadar pembaruan perlengkapan panggung. Lebih dari itu, langkah ini bagian dari menjaga nilai sejarah Ngesti Pandowo agar tetap dikenang lintas generasi.
"Baju ini memang simbolis satu, tetapi kami menyiapkan banyak kostum baru untuk menggantikan busana wasiat yang selama ini digunakan para pemain. Kostum lama nantinya akan disimpan di museum agar menjadi bagian dari sejarah dan pembelajaran bagi generasi berikutnya," ujarnya.
Lima Keluarga Pendiri Dapat Penghargaan Khusus
Pada momen yang sama, lima keluarga pendiri Ngesti Pandowo menerima tanda tresna dari wali kota. Mereka adalah keturunan Ki Sastrosabdo, Ki Narto Sabdo, Ki Darso Sabdo, Ki Kusni, dan Ki Sastro Soedirdjo. Penghargaan itu diberikan atas jasa mereka dalam menjaga eksistensi seni wayang orang di Semarang.
Peringatan HUT ke-89 yang mengusung tema "Lestari Budayaku, Bersama Kita Maju, Membangun Semarang Semakin Hebat" juga dimeriahkan pagelaran Wanito Tangguh lakon Wahyu Purbo Sejati. Agustina bersama para istri Forkopimda turut ambil bagian dalam pementasan sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian seni tradisi.
TBRS Disiapkan Jadi Rumah Besar Kesenian Semarang
Pemkot tidak hanya menyediakan kostum baru. Renovasi gedung pertunjukan di TBRS sudah dilakukan, termasuk pembaruan sejumlah fasilitas pendukung. Program pendampingan bagi para seniman juga disiapkan, mulai dari layanan pemeriksaan kesehatan hingga perhatian terhadap pendidikan anak-anak mereka.
Pemkot menargetkan TBRS berkembang menjadi pusat kegiatan seni yang menghadirkan berbagai pertunjukan budaya secara berkelanjutan. Tidak hanya wayang orang, tetapi juga macapat, geguritan, tari tradisional, hingga agenda budaya lain yang masuk dalam kalender event resmi Kota Semarang.