SEMARANG — Kompetisi yang berlangsung sejak 14 April hingga 25 Mei 2026 itu memuncak dengan presentasi 15 tim finalis di Kantor Gubernur Jawa Tengah. Para mahasiswa menyajikan artikel yang mengupas berbagai program pemerintah daerah, mulai dari tata kelola pemerintahan hingga pemberdayaan masyarakat.
Ide Ekonomi Sirkular dan Digitalisasi Jadi Jawara
Juara pertama diraih tim Kalau Menang Kita Makan Merugame dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Artikel mereka berjudul "Inovasi Program Kantor Gubernur Rumah Rakyat dalam Mewujudkan Good Governance yang Responsif terhadap Aspirasi Masyarakat".
Posisi kedua ditempati tim Rawat Jagad dari Universitas Diponegoro (Undip). Lewat artikel "Daur Pupuk: Sistem Waste to Economy Terdesentralisasi Melalui Model Unit Ekonomi Sirkular Berbasis Kecamatan dalam Program Kecamatan Berdaya di Jawa Tengah", mereka menawarkan solusi pengelolaan sampah yang bernilai ekonomi.
Sedangkan juara ketiga menjadi milik tim Zimoot dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto. Gagasan mereka, "Dual Point: Duta Zilenial dan Eco-Point Mengubah Kartu Zilenial dari Sekadar Administrasi Menjadi Akselerasi Pemuda Jawa Tengah", menyoroti potensi kartu identitas pemuda sebagai alat pemberdayaan.
Apa yang Dibahas Tim Harapan?
Untuk kategori harapan, juara harapan 1 diraih tim Srikandi dari Universitas Semarang (USM) dengan artikel "Optimalisasi Layanan Bus Rapid Transit (BRT) melalui aplikasi ‘Jateng Go’ di Jawa Tengah".
Tim Bravo Juara dari UIN Prof. KH Saifuddin Zuhri Purwokerto menyabet juara harapan 2 lewat artikel "Potret Kampung Pengemis: Realita Kesenjangan Ekonomi di Tengah Kemegahan Purwokerto". Sementara itu, tim Justitia dari Universitas Negeri Semarang (Unnes) menjadi juara harapan 3 dengan artikel "Perancangan Aplikasi Resik (Rekam Elektronik Sistem Integrasi Keuangan) sebagai Inovasi Pencegahan Korupsi Melalui Pendekatan Legal Drafting Di Jawa Tengah".
Apresiasi Sekda: Kritik Mahasiswa Jadi Masukan untuk Pemda
Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, mengapresiasi partisipasi mahasiswa. Menurutnya, pembangunan daerah membutuhkan kolaborasi semua elemen, termasuk generasi muda.
"Mudah-mudahan gagasan atau ide yang tertulis itu bisa memberi masukan kepada kami," ujar Sumarno.
Ia menambahkan, kritik dan masukan dari masyarakat, khususnya mahasiswa, menjadi bagian penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan kinerja pemerintah.
Wadah Formal untuk Gagasan Mahasiswa
Kepala Biro Umum Provinsi Jawa Tengah, Laksono Dewanto, menjelaskan kompetisi ini dirancang sebagai ruang bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan edukatif dan inspiratif terkait pembangunan daerah. Selain itu, ajang ini juga bertujuan mempublikasikan capaian pembangunan Jateng serta mendorong diskursus publik.
Salsabiila Tirta Adyani, mahasiswa UNS, mengaku senang dengan adanya lomba ini. "Dengan adanya lomba ini kami sebagai mahasiswa bisa memberi kritik atau saran kepada pemerintah dengan cara yang lebih formal dan akademis," ucapnya.
Senada, Griselda Lisandara dari Undip berharap kompetisi serupa terus berlanjut. "Kami berterima kasih kepada Humas Pemprov Jateng yang sudah mengadakan lomba ini. Harapannya, semoga lomba ini tetap bisa berjalan di tahun-tahun berikutnya, karena sangat penting bagi mahasiswa untuk menyampaikan gagasan-gagasannya," tuturnya.
Seluruh finalis mendapatkan trofi, uang pembinaan, dan piagam penghargaan yang ditandatangani langsung Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi.