JAWA TENGAH — Pergerakan rupiah pagi ini nyaris menyentuh level psikologis Rp17.900 per dolar AS. Data Bloomberg menunjukkan depresiasi rupiah sejalan dengan mayoritas mata uang Asia lainnya yang juga tertekan oleh penguatan dolar AS.
Mata Uang Asia Terbelah, Ringgit Paling Tertekan
Dari kawasan Asia, ringgit Malaysia menjadi yang paling loyo dengan pelemahan 0,25 persen terhadap dolar AS. Yuan China dan peso Filipina juga ikut terkoreksi masing-masing 0,05 persen dan 0,03 persen.
Namun, tak semuanya merah. Won Korea Selatan justru mencatat penguatan 0,11 persen, disusul yen Jepang yang naik 0,03 persen. Dolar Singapura dan dolar Hong Kong juga terapresiasi tipis pada awal perdagangan hari ini.
Analis: Minyak Naik, Rupiah Tertekan
Lukman Leong, analis mata uang Doo Financial Futures, mengatakan kekhawatiran pasar terhadap prospek perdamaian di Timur Tengah menjadi biang kerok pelemahan rupiah. Eskalasi terbaru memicu aksi risk-off di pasar global.
"Eskalasi baru di Timur Tengah memicu kekhawatiran terhadap prospek perdamaian dan mendorong lonjakan harga minyak dunia. Kondisi ini berpotensi menekan rupiah terhadap dolar AS," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Proyeksi Pergerakan Hari Ini
Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS sepanjang perdagangan hari ini. Level Rp17.900 menjadi resistance krusial yang jika ditembus bisa membuka ruang pelemahan lebih dalam.
Investor disarankan mencermati perkembangan harga minyak dan data ketenagakerjaan AS yang akan dirilis akhir pekan ini. Kedua faktor tersebut dinilai bisa menentukan arah pergerakan dolar AS terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah.
Investasi mengandung risiko.