JAWA TENGAH — Program bertajuk “Pakkatuju: Pasca Bencana” ini digagas tim LONTARA dari PPK ORMAWA SPACE Fakultas Teknik Universitas Hasanuddin. Mereka menggandeng TAGANA di bawah Dinas Sosial Kabupaten Gowa untuk membekali warga keterampilan manajemen dapur umum darurat dan distribusi logistik saat bencana longsor terjadi.
Mengapa Desa Lonjoboko Jadi Prioritas
Desa Lonjoboko, tempat Dusun Tombongi berada, dikenal sebagai kawasan rawan longsor. Topografi perbukitan dan intensitas hujan tinggi membuat ancaman tanah bergerak selalu mengintai setiap musim hujan. Namun, hingga pelatihan digelar, belum ada sistem dapur darurat yang dikelola langsung oleh warga setempat.
“Kami harap masyarakat semakin memahami pengelolaan dapur darurat dan logistik saat terjadi bencana,” kata Ketua Tim PPK ORMAWA SPACE FT-UH, Andi Khusnul Rijal Rivai, dalam siaran pers yang diterima redaksi, Sabtu (25/7/2026). Ia menambahkan, dukungan Dinas Sosial Gowa menjadi pendorong utama agar program ini berjalan.
Isi Pelatihan: Dari Sortir Logistik hingga Penyajian Makanan
Dalam sesi praktik, warga diajarkan cara menyortir bantuan, menyusun menu darurat bergizi, hingga menjaga kebersihan dapur di lokasi pengungsian. Tim TAGANA yang berpengalaman dalam penanganan bencana menjadi instruktur langsung di lapangan.
Ketua Forum Koordinasi TAGANA Kabupaten Gowa, Muh. Jufri, mengapresiasi inisiatif mahasiswa. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan seperti ini dan berharap semakin banyak program pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh perguruan tinggi,” ujarnya di hadapan puluhan peserta.
Bantuan Pangan dan Komitmen Keberlanjutan
Selain pelatihan, Dinas Sosial Gowa memfasilitasi pembagian makanan tambahan untuk anak-anak di lokasi kegiatan. Langkah ini dinilai sebagai bentuk dukungan nyata agar masyarakat tidak hanya paham teori, tetapi juga merasakan manfaat langsung.
Dosen pendamping tim, Ir. Dewa Sagita Alfadin Nur, S.T., M.T., menekankan agar program ini tidak berhenti sebagai acara seremonial. “Saya berharap tim tetap menjaga komitmen dan kekompakan agar solusi yang dibawa benar-benar dapat diimplementasikan secara mandiri oleh masyarakat desa,” tuturnya.
Ke depan, tim LONTARA menargetkan pembentukan kader siaga bencana di setiap dusun di Desa Lonjoboko. Pelatihan dapur darurat ini menjadi langkah awal dari rangkaian program mitigasi longsor yang direncanakan berlangsung hingga akhir tahun 2026.