SEMARANG — Kenaikan harga cabai dan bawang merah di Jawa Tengah menjadi pendorong utama inflasi bulanan pada Mei 2026. Secara bulanan (month to month/mtm), inflasi provinsi ini tercatat 0,23 persen, lebih rendah dibandingkan inflasi nasional yang sebesar 0,28 persen.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, M. Noor Nugroho, menjelaskan bahwa kenaikan harga komoditas pangan itu dipicu oleh faktor alam dan peningkatan permintaan musiman.
Cuaca Ekstrem dan Serangan Hama Pangkas Produksi Cabai-Bawang
Menurut Bank Indonesia, sentra produksi cabai di Kabupaten Temanggung serta bawang merah di Kabupaten Pati dan Demak mengalami penurunan hasil panen. Penyebabnya adalah cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tanaman, dan kekeringan di sejumlah daerah sentra.
“Kenaikan harga cabai dan bawang dipicu penurunan produktivitas akibat cuaca ekstrem, serangan organisme pengganggu tanaman, serta kekeringan di sejumlah sentra produksi,” ujar Noor Nugroho dalam pernyataan resminya.
Tekanan harga semakin kuat karena peningkatan permintaan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha dan musim hajatan.
Bukan Cuma Pangan: HP dan LPG Non-Subsidi Ikut Andil
Selain kelompok pangan, inflasi juga berasal dari kelompok Informasi, Komunikasi, dan Jasa Keuangan dengan andil 0,06 persen. Kenaikan harga telepon seluler dipengaruhi oleh meningkatnya harga komponen elektronik seperti chipset dan memori akibat tingginya permintaan industri kecerdasan buatan global.
Kelompok Perumahan, Air, Listrik, dan Bahan Bakar Rumah Tangga juga ikut menyumbang inflasi. Penyesuaian harga LPG non-subsidi yang dilakukan pada April 2026 masih berlanjut hingga Mei 2026 di tingkat konsumen.
Emas Perhiasan Justru Turun, Tahan Laju Inflasi
Di sisi lain, tekanan inflasi tertahan oleh deflasi pada kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya dengan andil minus 0,05 persen. Penurunan harga emas perhiasan menjadi faktor utama seiring koreksi harga emas global dan aksi ambil untung investor.
Surakarta, Kudus, dan Cilacap Paling Terpukul
Secara spasial, seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jawa Tengah mengalami inflasi selama Mei 2026. Inflasi tertinggi tercatat di Surakarta, Kudus, dan Cilacap yang masing-masing mencapai 0,31 persen (mtm).
Daerah lain yang juga mengalami inflasi antara lain Kabupaten Wonogiri sebesar 0,30 persen, Purwokerto 0,28 persen, Kabupaten Rembang 0,24 persen, Kota Semarang 0,16 persen, Kota Tegal 0,14 persen, dan Kabupaten Wonosobo 0,12 persen.
Secara tahunan (year on year/yoy), inflasi tertinggi terjadi di Cilacap sebesar 3,22 persen. Posisi berikutnya ditempati Kabupaten Wonogiri 3,02 persen, Kota Tegal 2,90 persen, Purwokerto 2,88 persen, dan Surakarta 2,85 persen.
BI dan TPID Siapkan Langkah Antisipasi
Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Jawa Tengah dan TPID kabupaten/kota akan terus memperkuat koordinasi pengendalian inflasi. Langkah tersebut difokuskan pada menjaga kecukupan pasokan serta kelancaran distribusi barang dan komoditas strategis.
“Bank Indonesia bersama seluruh pemangku kepentingan akan terus bersinergi menjaga inflasi tetap berada dalam rentang sasaran melalui penguatan pasokan dan distribusi komoditas di Jawa Tengah,” tandas Noor Nugroho.