SOLO — Dwi Joko, pelatih Persiharjo Sukoharjo yang juga mantan pemain Persis Solo, angkat bicara soal degradasi tim kebanggaan warga Solo itu. Menurutnya, kegagalan Persis bertahan di kasta tertinggi sepak bola Indonesia bukan semata soal taktik di lapangan, melainkan kegagalan sistem pembinaan usia muda.
Akar Masalah: Pembinaan Usia Muda yang Mandek
Dwi Joko menilai Persis Solo dalam beberapa musim terakhir lebih memilih merekrut pemain asing dan pemain dari luar daerah ketimbang memberi ruang bagi pemain lokal asli Solo dan sekitarnya. “Jangan abaikan talenta lokal. Banyak pemain bagus dari Solo dan Jawa Tengah yang tidak diberi kesempatan,” ujarnya.
Ia mencontohkan, pada era 1990-an saat ia masih bermain, Persis justru dikenal sebagai tim yang kuat karena mayoritas pemainnya adalah putra daerah. “Dulu pemain lokal jadi tulang punggung. Sekarang, mereka malah tersingkir oleh pemain yang didatangkan dari luar,” imbuhnya.
Degradasi: Akhir dari Siklus Kebijakan Rekrutmen?
Persis Solo resmi terdegradasi setelah gagal bersaing di papan bawah klasemen Liga 1 musim ini. Keputusan manajemen yang kerap berganti pelatih dan strategi belanja pemain yang tidak konsisten dinilai menjadi faktor yang memperparah performa tim.
Dwi Joko menambahkan, manajemen klub perlu melakukan evaluasi total. “Jangan hanya sibuk mencari pelatih baru atau pemain asing. Mulailah dari pembinaan usia muda. Itu investasi jangka panjang,” tegasnya.
Apa Langkah Selanjutnya untuk Laskar Sambernyawa?
Degradasi ke Liga 2 membawa konsekuensi berat bagi Persis Solo. Selain kehilangan hak siar dan sponsor besar, klub harus merombak skuad secara signifikan. Dwi Joko berharap momentum ini menjadi titik balik bagi manajemen untuk kembali ke akar rumput.
“Saya berharap musim depan Persis bangkit dengan skuad yang lebih lokal. Bukan berarti anti-pemain asing, tapi harus proporsional,” pungkasnya.