SEMARANG — Politik kontemporer, terutama di era digital, menuntut pembaruan pendekatan teoritis agar tetap relevan membaca perilaku pemilih dan strategi kampanye. Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Mohammad Saleh menilai teori politik klasik kerap tidak cukup untuk menjelaskan realitas di lapangan yang semakin kompleks.
"Teori itu penting, tetapi akan lebih bermakna jika bisa digunakan untuk membaca perilaku pemilih, strategi kampanye, dan dinamika kekuasaan yang nyata di lapangan," kata Saleh di Semarang, Sabtu.
Faktor Emosional dan Framing Media Lebih Dominan
Menurut Saleh, keputusan politik masyarakat saat ini tidak lagi sepenuhnya rasional seperti yang dijelaskan dalam teori klasik. Faktor emosional, kedekatan sosial, hingga framing media disebutnya turut memengaruhi pilihan politik warga.
Ia menegaskan pertarungan politik modern bukan hanya soal program kerja, tetapi juga persepsi, narasi, dan bagaimana realitas dibingkai di ruang publik. "Dulu kampanye lebih banyak mengandalkan tatap muka. Sekarang, komunikasi politik terjadi setiap saat di media sosial," ujarnya.
Dari Kampanye Tatap Muka ke Microtargeting Digital
Perubahan lanskap politik akibat perkembangan teknologi digital disebut Saleh sebagai tantangan terbesar bagi para akademisi dan praktisi politik. Media sosial telah mengubah cara kandidat membangun citra dan berinteraksi dengan pemilih secara fundamental.
Kondisi ini, lanjut dia, membuat teori-teori politik harus mampu menjelaskan fenomena baru seperti digital campaign dan microtargeting. Kampanye digital adalah upaya pemasaran pesan secara online melalui platform digital untuk menjangkau audiens target secara efektif dan terukur.
Sementara itu, microtargeting merupakan strategi komunikasi yang memanfaatkan data demografis, psikografis, dan perilaku konsumen secara sangat spesifik untuk menyasar pemilih potensial.
Teori Harus Bisa Baca Dinamika Kekuasaan Nyata
Saleh menekankan bahwa teori politik tidak boleh menjadi sekadar hafalan di ruang kuliah, melainkan harus teruji di lapangan. "Teori akan lebih bermakna jika bisa digunakan untuk membaca dinamika kekuasaan yang nyata," katanya.
Pernyataan legislator Partai Golkar ini menjadi pengingat bagi kalangan akademisi dan peneliti politik untuk terus mengembangkan kerangka analisis yang adaptif terhadap perubahan zaman, khususnya di Jawa Tengah yang memiliki basis pemilih yang beragam.