UNGARAN — Data BPBD Jawa Tengah hingga 30 Agustus 2026 menunjukkan tren yang perlu diwaspadai warga perkotaan. Kebakaran yang melanda gedung dan permukiman tercatat 333 kejadian, lebih tinggi dibandingkan kebakaran hutan dan lahan yang mencapai 282 kejadian. Total akumulasi 615 kejadian ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah untuk menggeser fokus kesiapsiagaan, tidak hanya di area persawahan atau perkebunan, tetapi juga di lingkungan padat penduduk.
Musim kemarau tahun ini masih menjadi pemicu utama meluasnya api di lahan terbuka. Namun, dominasi kebakaran yang menimpa bangunan menunjukkan bahwa kelalaian warga dalam aktivitas sehari-hari, seperti membakar sampah atau arus pendek listrik, turut berkontribusi besar terhadap tingginya angka kejadian.
Evaluasi Data: Titik Rawan Tak Lagi di Lahan Kosong
Kepala Pelaksana Harian BPBD Jawa Tengah, Bergas Catursasi Penanggungan, menyebut pemetaan kejadian masih menunjukkan kebakaran banyak terjadi di lahan pertanian dan perkebunan. Faktor manusia atau kelalaian menjadi pemicu yang dominan dalam sebagian besar kasus yang ditangani.
“BPBD tetap harus siap. Begitu terdeteksi titik panas (hotspot) yang berefek pada potensi kebakaran, kita langsung bergerak memadamkan bekerja sama dengan Damkar setempat,” ujar Bergas di sela kegiatan pelatihan.
150 Relawan Digembleng Kemampuan Urban SAR
Menghadapi spektrum ancaman yang kian luas, Pemprov Jawa Tengah tidak hanya mengandalkan mobil pemadam. Sekretaris Daerah Jawa Tengah, Sumarno, menegaskan bahwa kecepatan respons di lapangan sangat menentukan besarnya kerugian dan potensi korban jiwa.
“Kami mengapresiasi dan sangat support kegiatan peningkatan kapasitas teman-teman relawan. Ini menjadi bagian tanggung jawab pemerintah daerah, agar kalau ada kebencanaan, penanganannya bisa lebih cepat,” kata Sumarno saat memimpin Apel Pelatihan Peningkatan Kapasitas Personel Relawan Kebencanaan di Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) Penggaron, Ungaran Timur, Jumat (4/9/2026).
Pelatihan yang melibatkan instruktur dari Basarnas ini diikuti sekitar 150 relawan terpilih dari berbagai kabupaten dan kota di Jawa Tengah. Materi yang diberikan diarahkan pada peningkatan kemampuan pencarian dan pertolongan, termasuk teknik Urban Search and Rescue (Urban SAR) yang relevan untuk operasi penyelamatan di gedung bertingkat maupun permukiman yang rusak akibat kebakaran.
Pencegahan: Api Kecil Bisa Menjadi Bencana Besar
Di tengah penguatan peralatan dan personel, Pemprov Jateng mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran secara sembarangan, termasuk ketika membersihkan lahan atau sampah. Aktivitas membakar sisa panen atau sampah rumah tangga di musim kemarau berisiko tinggi menjalar ke permukiman jika tidak diawasi ketat.
Dengan kemampuan relawan yang lebih terlatih, diharapkan respons awal terhadap kejadian bisa dilakukan lebih cepat sebelum berubah menjadi operasi besar yang memakan banyak sumber daya. Langkah pencegahan tetap menjadi garda terdepan, karena api yang kecil sering kali menjadi bencana besar ketika angin kencang bertiup dan lahan kering mudah terbakar.