BREBES — Kecamatan Salem tidak hanya berbatasan dengan Kabupaten Cilacap di selatan dan Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, di barat, tetapi juga menyimpan kekayaan alam yang jarang terekspos. Wilayah perbukitan dan pegunungannya menjadi modal utama pengembangan wisata alam, sementara tradisi budaya seperti Upacara Adat Ngasa masih hidup di tengah masyarakat.
Dari 21 desa yang tersebar, Desa Gunung Tajem tercatat sebagai wilayah terluas dengan luas 13,57 km². Sebaliknya, Desa Pabuaran menjadi desa dengan luas paling kecil, hanya 3,83 km².
Desa Terpadat dan Terjarang di Salem
Kepadatan penduduk di kecamatan ini timpang. Data Badan Pusat Statistik mencatat Desa Bentar sebagai wilayah terpadat dengan 1.127 penduduk per km². Artinya, setiap satu kilometer persegi di desa itu dihuni lebih dari seribu jiwa.
Di sisi lain, Desa Winduasri hanya memiliki kepadatan 67 penduduk per km². Kondisi ini mencerminkan perbedaan karakter geografis antara desa di dataran rendah dan kawasan pegunungan.
Gunung Lio hingga Ranto Canyon, Andalan Wisata Alam
Salem menawarkan setidaknya lima destinasi alam yang bisa dikunjungi. Gunung Lio menjadi pilihan bagi pendaki dengan kawasan hutan pinusnya. Sementara Bukit Bintang Capar di Desa Capar menyuguhkan spot sunset dengan gardu pandang berbentuk bintang, tiket masuknya hanya Rp 5 ribu.
Bukit Panenjoan di Desa Wanoja berada di ketinggian sekitar 850 mdpl. Pemandangan terasering sawah dari puncaknya kerap dibandingkan dengan Ubud, Bali, dan menjadi favorit pencari sunrise.
Untuk wisata air, Ranto Canyon di Desa Winduasri menawarkan air terjun yang diapit dua tebing tinggi. Tiket masuknya Rp 30 ribu, sudah termasuk pemandu dan alat pelindung diri. Ada pula Kalibaya Park di Desa Pasir Panjang yang menyediakan gardu pandang, sepeda gantung, dan spot foto.
Upacara Adat Ngasa dan Kuliner Lokal Salem
Potensi Salem tidak hanya alam. Upacara Adat Ngasa di Desa Gandoang digelar setiap Selasa Kliwon bulan Maret sebagai wujud syukur. Ratusan warga membawa hasil panen menuju Gunung Sagara dalam tradisi turun-temurun ini.
Kuliner dan produk lokal juga menjadi daya tarik tersendiri. Kopi Capar, telur asin, soto, keripik singkong, gula aren, hingga madu hutan bisa ditemukan di kecamatan ini.
Strategi Pengembangan: Kewenangan Desa dan Kolaborasi Tiga Pihak
Pengembangan wisata Salem disebut membutuhkan penguatan kewenangan desa. Desa memiliki otoritas lokal untuk mengelola potensi wisata di wilayahnya masing-masing.
Kolaborasi tiga pihak menjadi kunci: pemerintah desa dengan otonomi aslinya, BUMDes sebagai motor ekonomi, dan masyarakat sebagai pelaku langsung. Sinergi ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan warga tanpa meninggalkan kelestarian alam dan budaya setempat.