SEMARANG — Pemprov Jawa Tengah tidak lagi hanya mengandalkan wisata alam dan budaya untuk menarik turis asing. Kini, pendekatan baru berupa wisata ramah muslim atau Muslim-friendly tourism menjadi andalan untuk membidik segmen wisatawan mancanegara, khususnya dari Timur Tengah dan Asia Tenggara. Langkah ini dinilai strategis mengingat tren perjalanan wisata halal global yang terus menggeliat pasca-pandemi.
Mengapa Pemprov Jateng Mendadak Fokus ke Wisata Ramah Muslim?
Gubernur Jawa Tengah melalui Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Disparekraf) menilai selama ini potensi wisata halal belum dikelola secara optimal. Padahal, sejumlah destinasi di Jateng seperti Solo, Semarang, dan Magelang memiliki ekosistem yang mendukung, mulai dari banyaknya masjid hingga kuliner halal yang melimpah. “Kami ingin Jawa Tengah menjadi destinasi utama wisata ramah muslim di Indonesia, tidak hanya untuk wisatawan domestik tapi juga mancanegara,” ujar Kepala Disparekraf Jateng dalam sebuah forum diskusi pariwisata baru-baru ini.
Bukan Sekadar Sertifikasi Halal Makanan
Program ini tidak hanya berhenti pada sertifikasi halal untuk rumah makan. Pemprov Jateng menyiapkan tiga pilar utama: pertama, sertifikasi halal bagi destinasi dan produk wisata; kedua, pelatihan SDM pariwisata tentang pelayanan ramah muslim; dan ketiga, pengembangan hotel serta penginapan yang menyediakan fasilitas sholat, ketersediaan Al-Qur'an, hingga toilet ramah wudhu. “Kami akan mendorong lebih banyak hotel dan restoran di jalur wisata utama untuk mengantongi sertifikat halal,” tambahnya.
Target 2,5 Juta Wisman dan Dampak ke UMKM Lokal
Pemprov menargetkan kenaikan jumlah wisatawan mancanegara hingga 2,5 juta kunjungan pada tahun depan. Salah satu dampak langsung yang diharapkan adalah peningkatan omzet pelaku UMKM di sektor kuliner dan suvenir. Dengan adanya jaminan halal, wisatawan dari negara-negara dengan mayoritas muslim seperti Malaysia, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab diyakini akan lebih nyaman berbelanja dan berwisata di Jawa Tengah.
Langkah Konkret yang Sudah Berjalan
Disparekraf Jateng mengaku sudah memulai inventarisasi destinasi dan pelaku usaha yang siap mengikuti program sertifikasi. Beberapa destinasi unggulan seperti kompleks Candi Prambanan, kawasan Kota Lama Semarang, dan Desa Wisata Kandri di Semarang mulai diarahkan untuk memenuhi standar ramah muslim. Selain itu, pemprov juga akan menggandeng Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jateng untuk mempercepat proses sertifikasi halal secara gratis bagi pelaku usaha kecil.
Potensi Kendala di Lapangan
Meski optimistis, program ini bukannya tanpa tantangan. Tidak semua pengelola destinasi dan hotel di daerah paham betul standar pelayanan ramah muslim. Biaya renovasi fasilitas seperti penyediaan musala dan toilet wudhu juga dinilai memberatkan bagi penginapan skala kecil. “Kami butuh pendampingan teknis dan insentif dari pemprov agar bisa ikut program ini,” ujar seorang pengelola homestay di kawasan Borobudur.
Pemprov Jateng berjanji akan mengalokasikan anggaran khusus untuk subsidi sertifikasi dan pelatihan gratis bagi pelaku pariwisata di 35 kabupaten/kota. Rencana aksi detail program ini dijadwalkan rampung pada akhir kuartal pertama tahun depan.