JAWA TENGAH — Bundesliga 2025-26 resmi menutup musim dengan dominasi Bayern Munich. Tim asuhan Vincent Kompany tak sekadar juara, tetapi juga menghadirkan gaya bermain menghibur. Dalam penghargaan akhir musim yang dirilis pekan ini, beberapa nama mencuri perhatian di luar kebiasaan—termasuk pemain pinjaman yang langsung jadi superstar dan satu gol yang layak masuk museum.
Olise Lebih dari Sekadar Angka: Kenapa Ia Lebih Berharga dari Kane
Harry Kane memang monster gol dengan 61 gol di semua ajang. Namun, Michael Olise dinilai sebagai mesin permainan Bayern yang sesungguhnya. Pelatih Paris Saint-Germain, Luis Enrique, sampai memerintahkan kipernya membuang bola ke luar lapangan demi membatasi ruang gerak Olise di leg kedua semifinal Liga Champions.
“Angka-angka itu tidak benar-benar menggambarkan keagungan Olise,” tulis laporan penghargaan tersebut. Ia disebut meluncur melewati lawan, mengatur tempo tim, dan memiliki akurasi tembakan serta umpan mematikan dari hampir semua posisi.
Pemain Pinjaman Jadi Bek Tengah Terbaik: Luka Vuskovic Bawa Hamburg Bertahan
Penghargaan pemain muda musim ini jatuh ke tangan Luka Vuskovic, bek tengah 19 tahun yang dipinjamkan Tottenham ke Hamburg. Pemain asal Kroasia itu menjadi fondasi utama tim promosi yang langsung finis aman di papan tengah setelah tujuh tahun absen dari Bundesliga.
Enam gol dari lini belakang, tekel agresif, dan ketenangan yang dibawanya membuat Vuskovic disebut sebagai salah satu bek tengah terbaik liga. Masalahnya, Tottenham kini memiliki aset mahal—Bayern dan Dortmund sudah mengantre untuk merekrutnya musim depan.
Gol Luis Díaz ke Gawang Union Berlin Jadi yang Terbaik Musim Ini
Kompetisi gol musim ini sangat ketat. Ada tendangan kalajengking Martin Terrier, lob jarak jauh Fábio Vieira, hingga solo run Saïd El Mala yang menembus setengah tim Bayern. Namun, pemenangnya adalah Luis Díaz.
Gol pemain Kolombia itu ke gawang Union Berlin adalah kombinasi kerja keras dan kejeniusan teknis: ia menjatuhkan diri untuk menjaga bola tetap dalam permainan, melewati dua pemain di ruang sempit, lalu melepaskan tembakan keras dari sudut mustahil. “Luar biasa,” tulis pengamat, mengingat musim debut Díaz yang sedikit tenggelam di bawah sorotan Kane dan Olise.
Pelatih Terbaik: Sebastian Hoeness, Pekerja Diam-diam di Stuttgart
Setiap musim Stuttgart kehilangan bintang utamanya—kali ini Enzo Millot dan Nick Woltemade—tetapi Sebastian Hoeness terus membawa timnya naik level. Finis keempat, final Piala DFB, dan babak 16 besar Liga Europa adalah bukti nyata.
“Pada suatu titik, raksasa akan datang dan mengambil Hoeness,” demikian prediksi laporan tersebut. Untuk sekarang, ia layak dinobatkan sebagai pelatih terbaik musim ini, mengalahkan Ole Werner yang membawa RB Leipzig kembali ke Liga Champions dan Christian Ilzer yang membawa Hoffenheim ke posisi empat besar.