SUKOHARJO — Suara gemuruh mesin panen kombinasi memecah keheningan hamparan sawah seluas 264 hektare di Desa Gentan. Sekitar 100 petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sari Tani menuai hasil manis pada musim tanam kedua tahun 2026 dengan produktivitas menembus enam ton padi per hektare.
Momentum ini tidak hanya menjadi ajang perayaan panen, tetapi juga ruang dialog langsung antara petani dan pemerintah provinsi. Ketua Gapoktan Desa Gentan, Joko Mursito, menyampaikan sejumlah aspirasi mendesak kepada Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi.
“Alhamdulillah petani Desa Gentan senang, karena aspirasi kami langsung ditangkap Pak Gubernur. Kami merasa diperhatikan dan nyaman,” ujar Joko Mursito pada 24 Juni 2026 lalu.
Jaminan Air dan Mesin Panen Jadi Prioritas Petani
Dalam pertemuan tersebut, para petani menyoroti empat kebutuhan utama yang menentukan kelangsungan musim tanam berikutnya. Pertama, jaminan ketersediaan air untuk musim tanam ketiga. Kedua, penambahan mesin panen untuk mempercepat proses pasca-panen.
Selain itu, mereka meminta perluasan jaringan listrik untuk sumur dalam guna mengoptimalkan irigasi. Terakhir, perbaikan akses jalan usaha tani yang dinilai krusial untuk distribusi hasil panen dan mobilitas alat pertanian.
Produksi Padi Jateng Tembus 9,39 Juta Ton pada 2025
Rekam jejak sektor agraris Jawa Tengah tercermin dari capaian produksi tahun lalu. Total produksi padi mencapai 9,39 juta ton GKG, yang dipanen dari areal sawah seluas 1,67 juta hektare. Angka ini mencatatkan peningkatan signifikan sebesar 493.684 ton dibanding periode sebelumnya.
Dengan volume produksi tersebut, Jawa Tengah mengamankan kontribusi sebesar 15 persen terhadap total pasokan beras nasional. Beras dari provinsi ini tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal, tetapi juga didistribusikan ke berbagai daerah di Nusantara.
Modernisasi Pertanian Jadi Kunci Keberlanjutan
Di bawah kepemimpinan Gubernur Ahmad Luthfi dan Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen, modernisasi pertanian menjadi prioritas utama. Langkah ini ditempuh melalui bantuan irigasi, perlindungan lahan produktif, serta penguatan akses petani terhadap teknologi panen.
Komitmen tersebut dipacu bukan hanya untuk mencukupi kebutuhan pangan warga Jawa Tengah, melainkan juga menopang fondasi ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan. Keberhasilan panen di Sukoharjo menjadi salah satu bukti bahwa hilirisasi dukungan pemerintah berjalan efektif di tingkat lapangan.