SPBU Pertamina Brightspace Duri Diduga Layani Pelansir Bio Solar

Penulis: Nanda Firmansyah  •  Selasa, 13 Oktober 2026 | 12:07:31 WIB
Antrean truk dan pikap mengular di jalur masuk SPBU 14.287.634 Pertamina Brightspace, Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau.

JAWA TENGAH — SPBU 14.287.634 Pertamina Brightspace di Jalan Hang Tuah, Duri, Kabupaten Bengkalis, Riau, diduga melayani pembelian Bio Solar bersubsidi oleh puluhan truk dan pikap yang beroperasi sebagai pelansir. Praktik itu berlangsung terang-terangan selama bertahun-tahun, berbanding terbalik dengan upaya pemerintah menekan konsumsi energi bersubsidi lewat kebijakan work from home dan penyesuaian harga BBM non-subsidi.

Paragraf pembuka: Pantauan di lokasi pada Rabu (7/10) hingga Kamis (8/10) memperlihatkan antrean kendaraan mengular di jalur masuk SPBU sejak pukul 12.00 WIB. Truk Colt Diesel kuning tanpa muatan mendominasi, disusul pikap L300, Panther, dan Fortuner yang parkir di sisi kiri depan mushola, siap menerobos antrean demi mendapat jatah Bio Solar.

Sejumlah sopir memilih menunggu di belakang kemudi, sebagian lain nongkrong di depan rumah makan di sebelah kiri akses masuk SPBU. Menurut seorang sopir minibus yang ditemui di lokasi, pemandangan itu sudah berlangsung beberapa tahun dan dianggap lumrah.

Modus Pelansiran dan Peran Pengepul

Bio Solar yang seharusnya dialokasikan bagi kendaraan umum dan masyarakat umum diduga dibeli dalam jumlah besar oleh oknum sopir atas suruhan pengepul. BBM kemudian disimpan dan ditimbun di gudang-gudang yang tersebar di wilayah Duri, lalu dijual sesuai permintaan perusahaan yang beroperasi di kawasan itu.

Kendaraan yang terlibat beragam, mulai truk Colt Diesel, pikap L300, minibus, hingga truk balak. Seorang sopir minibus mengaku dirinya dan rekan-rekannya hanya menjalankan perintah "toke" yang mencari cuan dari selisih harga BBM bersubsidi.

Antrean Warga Umum Jadi Korban

Warga yang hendak mengisi BBM untuk kebutuhan pribadi harus menunggu berjam-jam karena antrean didominasi kendaraan pelansir. Sopir itu menegaskan kelangkaan bukan penyebabnya. "Kejadian itu biasa Pak. Saya sejak beberapa tahun lalu hingga saat ini melihat pemandangan sudah biasa di SPBU Jalan Hang Tuah," ucapnya.

Ia menambahkan para sopir saling mendahului, bahkan saling mencaci dan memaki, demi mendapat jatah. "Para sopir mencari cuan dengan cara melansir BBM Subsidi. Mereka apalah Pak. Oknum-oknum toke yang menyuruh agar mereka melakukan pekerjaan itu," katanya.

Pengelola SPBU Disebut Membiarkan

Mandor lapangan, operator, hingga pekerja lain di SPBU 14.287.634 dinilai membiarkan aktivitas pembelian Bio Solar yang tidak sesuai standar operasional prosedur pendistribusian. Truk tangki PT Elnusa dan Pertamina Patra Niaga terlihat membongkar muatan ke bunker di pojok kiri jalur keluar areal SPBU.

Sumber yang dikutip katakabar.com menyebut BBM yang baru dibongkar bukan untuk didistribusikan hari itu, melainkan sebagai stok untuk hari berikutnya. Kroscek keesokan harinya sekitar pukul 06.00-07.00 WIB membenarkan informasi itu: puluhan kendaraan berbeda jenis berburu Bio Solar di pompa kedua sebelah kiri depan kantor staf SPBU.

Praktik pelansiran ini terjadi saat pemerintah gencar menghemat energi di tengah ketidakpastian geopolitik global, antara lain melalui kebijakan WFH dan kenaikan harga Pertamax, Pertamax Turbo, dan Dexlite. Bio Solar bersubsidi justru berpindah ke tangan pengepul, bukan ke rakyat yang berhak menerimanya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Pertamina Patra Niaga maupun pengelola SPBU 14.287.634 soal dugaan pelansiran tersebut. Pengawasan distribusi BBM bersubsidi menjadi ujian tersendiri bagi Pertamina di wilayah operasi migas seperti Duri, tempat permintaan solar industri terus tinggi.

Reporter: Nanda Firmansyah
Sumber: katakabar.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top