JAWA TENGAH — Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung, kembali erupsi pada Jumat (9/10/2026) pukul 16.30 WIB dengan tinggi kolom abu sekitar 150 meter di atas puncak. Dalam sepekan terakhir, gunung berapi di Level II (Waspada) ini sudah lima kali erupsi. PVMBG melarang wisatawan dan pendaki beraktivitas dalam radius 2 kilometer dari kawah aktif.
Laporan aktivitas vulkanik MAGMA Indonesia mencatat kolom abu erupsi berwarna kelabu, coklat hingga hitam dengan intensitas tebal mengarah ke utara, timur laut, dan barat. Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 56 milimeter dan durasi 36 detik.
Pengamatan kegempaan sepanjang 9 Oktober 2026 pukul 00.00-23.59 WIB mencatat satu gempa letusan beramplitudo 46 milimeter dengan lama gempa 494 detik. Terjadi pula dua gempa hembusan beramplitudo 19-29 milimeter dan 20 gempa hybrid/fase banyak beramplitudo 8-49,5 milimeter.
PVMBG menetapkan tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau di Level II (Waspada). Masyarakat, pengunjung, wisatawan, dan pendaki diimbau tidak mendekati kawah aktif atau beraktivitas dalam radius 2 kilometer.
Bagi traveler yang menyusun rencana ke kawasan Selat Sunda, aturan radius ini berlaku tanpa pengecualian. Informasi terkini soal status gunung dapat dipantau lewat aplikasi MAGMA Indonesia atau dikonfirmasi ke pos pemantauan setempat sebelum berangkat.
MAGMA Indonesia merekam 5.008 letusan gunung api di seluruh Indonesia selama 2026. Gunung Semeru di Jawa Timur memimpin dengan 1.945 kali letusan.
Gunung Anak Krakatau sendiri tercatat erupsi 136 kali sepanjang tahun ini. Frekuensi lima kali dalam sepekan terakhir menunjukkan aktivitas yang masih fluktuatif dan perlu dipantau.
Kawasan Anak Krakatau selama ini jadi tujuan wisata bahari dari Pelabuhan Carita, Pandeglang, Banten, maupun Lampung. Ketika status naik ke Waspada, operator wisata biasanya menyesuaikan jarak jelajah perahu.
Wisatawan disarankan memakai masker bila berada di area yang terpapar abu, terutama bagi yang punya riwayat gangguan pernapasan. Waktu terbaik memantau perkembangan adalah pagi hari saat laporan aktivitas harian dirilis.
Durasi ideal kunjungan ke kawasan ini tetap bergantung pada status gunung. Jika aktivitas vulkanik meningkat, menunda perjalanan adalah pilihan paling aman.