Pencarian

Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.887 per Dolar AS, Tertahan Imbal Hasil Obligasi AS

Senin, 05 Oktober 2026 • 09:36:01 WIB
Rupiah Dibuka Melemah ke Rp17.887 per Dolar AS, Tertahan Imbal Hasil Obligasi AS
Nilai tukar rupiah dibuka melemah 5 poin ke level Rp17.887 per dolar AS pada Senin (5/10).

JAWA TENGAH — Nilai tukar rupiah dibuka melemah 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.887 per dolar AS pada perdagangan Senin (5/10) pagi. Pelemahan tipis terjadi saat mayoritas mata uang Asia bergerak bervariasi dan mata uang negara maju kompak tertekan terhadap dolar AS. Analis memperkirakan rupiah masih berpeluang menguat terbatas, namun tertahan tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat.

Pergerakan rupiah pada sesi pembukaan berlangsung di tengah dinamika mata uang kawasan yang tidak seragam. Sebagian mata uang Asia mampu menguat, sementara sisanya terdepresiasi terhadap dolar AS. Di sisi lain, hampir seluruh mata uang negara maju tercatat melemah, memberi gambaran bahwa dolar AS masih menjadi tujuan utama arus modal jangka pendek.

Yen dan Yuan Menguat, Won Korea Terdepresiasi

Dari kawasan Asia, yen Jepang mencatat penguatan 0,16 persen terhadap dolar AS. Yuan China naik tipis 0,02 persen, diikuti dolar Hong Kong yang menguat 0,01 persen.

Sebaliknya, won Korea Selatan terdepresiasi paling dalam di antara mata uang Asia, yakni 0,23 persen. Dolar Singapura melemah 0,13 persen dan peso Filipina turun 0,01 persen. Ringgit Malaysia tercatat bergerak datar terhadap dolar AS.

Mata Uang Negara Maju Kompak Tertekan

Tekanan terhadap mata uang negara maju terlihat merata. Euro Eropa turun 0,21 persen, poundsterling Inggris melemah 0,04 persen, dan dolar Australia terkoreksi 0,07 persen.

Dolar Kanada turun 0,11 persen, sementara franc Swiss melemah paling dalam di kelompok ini dengan penurunan 0,4 persen. Pergerakan tersebut menegaskan posisi dolar AS yang masih kokoh di pasar valuta asing global.

Rencana Pelepasan Cadangan Minyak G7 Jadi Sentimen Positif

Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menilai ada faktor yang bisa menopang rupiah pada perdagangan hari ini. Rencana pelepasan cadangan minyak mentah oleh negara-negara G7 diperkirakan menekan harga minyak dunia, yang secara historis berdampak positif bagi mata uang negara importir minyak seperti Indonesia.

"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi menguat terbatas terhadap dolar AS di tengah menurunnya harga minyak mentah dunia oleh rencana pelepasan cadangan oleh negara G7. Namun penguatan diperkirakan terbatas oleh imbal hasil obligasi AS yang masih tinggi," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.

Imbal Hasil Obligasi AS Masih Jadi Penghambat

Tingginya imbal hasil obligasi Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menahan laju penguatan rupiah. Yield yang masih menarik membuat investor global cenderung menempatkan dana di aset berdenominasi dolar AS, sehingga aliran modal ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia terbatas.

Kondisi ini membuat ruang penguatan rupiah tidak terlalu lebar meski ada sentimen positif dari sisi harga komoditas energi. Pelaku pasar valuta asing diperkirakan masih mencermati arah kebijakan moneter bank sentral AS dalam beberapa pekan ke depan.

Rentang Pergerakan Rupiah Hari Ini

Lukman memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Proyeksi tersebut mengindikasikan peluang penguatan terbatas dari level pembukaan Rp17.887.

  • Level pembukaan: Rp17.887 per dolar AS
  • Pelemahan harian: 5 poin atau 0,03 persen
  • Perkiraan rentang: Rp17.800-Rp17.850 per dolar AS
  • Sentimen positif: rencana pelepasan cadangan minyak G7
  • Sentimen negatif: imbal hasil obligasi AS masih tinggi

Apa Artinya bagi Pelaku Bisnis dan Investor

Bagi importir, pelemahan rupiah yang masih tipis belum memberi tekanan signifikan terhadap biaya impor, namun tetap perlu diwaspadai jika tren berlanjut. Eksportir justru berada di posisi menguntungkan karena penerimaan dalam dolar AS setara rupiah menjadi lebih besar.

Investor pasar obligasi dan saham perlu mencermati arah yield obligasi AS sebagai indikator utama arus modal asing. Selama imbal hasil AS bertahan tinggi, ruang apresiasi rupiah cenderung terbatas dan investor asing diperkirakan masih selektif dalam menempatkan dana di pasar domestik.

Follow katajateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks