SEMARANG — Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan komitmennya menerjemahkan semangat kemerdekaan ke dalam program-program yang menyentuh kebutuhan dasar warga. Gubernur Ahmad Luthfi menyebut layanan kesehatan, pendidikan, hingga penguatan ekonomi kerakyatan menjadi prioritas utama di tengah keterbatasan fiskal dan ketidakpastian global.
"Kita harus mampu berbuat hal yang bermanfaat bagi seluruh masyarakat," kata Luthfi didampingi Wakil Gubernur Taj Yasin Maimoen dan Sekda Jateng Sumarno, Senin (17/8).
Luthfi memaparkan sejumlah capaian yang menjadi indikator perbaikan kesejahteraan. Pada semester I-2026, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tercatat 5,80 persen, lebih tinggi dari rata-rata nasional yang berada di angka 5,45 persen.
Realisasi investasi hingga periode yang sama mencapai Rp 59,94 triliun. Angka itu disebut mampu menyerap sekitar 213 ribu tenaga kerja di berbagai sektor.
Dampaknya mulai terlihat pada indikator sosial. Angka kemiskinan di Jawa Tengah per Maret 2026 turun dari 9,48 persen menjadi 9,21 persen. Sementara tingkat pengangguran terbuka per Februari 2026 berada di 4,24 persen, turun 0,09 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Luthfi, berbagai permasalahan sosial tidak bisa diselesaikan sendiri oleh pemerintah. Dibutuhkan sinergi lintas elemen masyarakat agar pembangunan berjalan berjenjang dan berkelanjutan.
"Kita harus punya suatu semangat kolaborasi dengan dasar semangat kemerdekaan, seluruh elemen masyarakat Jawa Tengah perlu bersatu bahu-membahu, sehingga masyarakat bisa sejahtera," tegasnya.
Di sektor kesehatan, Pemprov Jateng mengklaim program Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan dokter spesialis keliling (Speling) mencatatkan capaian tertinggi secara nasional. Program ini terus digencarkan hingga menjangkau ribuan desa.
Pada sektor pendidikan, setiap tahun Pemprov Jateng menyediakan kuota sekolah gratis bagi 5.004 anak dari keluarga miskin dan kurang mampu di sekolah swasta melalui program sekolah kemitraan.
Di bidang perumahan, ribuan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di berbagai pelosok juga menjadi sasaran perbaikan tahunan. Langkah ini diambil untuk memastikan warga memiliki tempat tinggal yang layak dan sehat.
Semangat yang sama diungkapkan Sukarno (64), pedagang kaki lima di kawasan Simpanglima. Ia berharap kemerdekaan membawa kehidupan yang tentrem ayem, rukun, dan damai bagi seluruh warga.
"Harapan saya masalah ekonomi ini ditata dengan rapi. Kita sambut kemerdekaan ini dengan gembira, rukun, damai," ujar warga Kebonharjo, Kota Semarang itu.