Pencarian

Pasokan Minim, Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 116.600 per Kg

Senin, 21 September 2026 • 09:36:01 WIB
Pasokan Minim, Harga Cabai Rawit Merah Tembus Rp 116.600 per Kg
Harga cabai rawit merah di pasar naik menjadi Rp 116.600 per kilogram menurut data PIHPS Bank Indonesia.

JAWA TENGAH — Harga cabai rawit merah di pasar melonjak 25,99 persen atau sekitar Rp 24.050 per kilogram menjadi Rp 116.600 per kg, menurut data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia. Lonjakan ini dipicu minimnya pasokan karena produksi kini hanya berasal dari dataran rendah. Jika kemarau panjang berlanjut hingga November, harga berpotensi naik lebih tinggi lagi.

Kenaikan tidak hanya terjadi pada cabai rawit merah. Data PIHPS BI menunjukkan cabai merah keriting naik 43,72 persen atau sekitar Rp 29.050 per kg menjadi Rp 95.500 per kg. Cabai merah besar menguat 37,78 persen atau sekitar Rp 21.250 per kg menjadi Rp 77.500 per kg, sedangkan cabai rawit hijau naik 33,21 persen atau Rp 21.900 per kg menjadi Rp 87.850 per kg.

Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Abdul Hamid mengonfirmasi lonjakan tersebut sudah terasa sejak tingkat petani. Harga cabai rawit merah di petani kini mencapai Rp 60 ribu hingga Rp 65 ribu per kg.

"Cabai rawit memang ada kenaikan ya. Kenaikan di petani itu sekitar Rp 60 ribu per kg sampai Rp 65 ribu per kg. Jadi pas sampai (masyarakat) Rp 100 (ribu). Jadi memang kondisi pasar ini sekarang," ujar Abdul saat dihubungi detikcom.

Dataran Tinggi Tak Lagi Produktif

Akar persoalan harga cabai terletak pada sisi produksi. Abdul menyebut pasokan kini hanya mengandalkan lahan dataran rendah karena sentra dataran tinggi sudah tidak menghasilkan.

"Nah sementara produksi, produksi ini sekarang hanya ada di dataran rendah, kalau dataran tinggi sudah enggak ada lagi," terangnya.

Kondisi itu diperparah kemarau berkepanjangan. Tanaman cabai di dataran rendah rentan gagal panen saat cuaca kering berlanjut, sehingga stok di pasar terus menipis.

Risiko Harga Tembus Rp 120 Ribu per Kg

Abdul memperkirakan harga masih akan bergerak naik jika kemarau berlanjut hingga November. Penanaman baru pada Oktober-November pun dinilai tidak akan menambah pasokan secara signifikan karena hanya berasal dari dataran rendah.

"Apakah akan naik lagi? Tergantung dari musim, kalau seandainya kondisinya begini terus sampai November, bakal susah kita," katanya.

Skenario terburuk, harga di tingkat petani bisa menembus Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu per kg. Di pasar konsumen, angka itu setara Rp 100 ribu hingga Rp 120 ribu per kg.

"Kalau sananya enggak ada. Gagal semua ya bisa-bisa sampai Rp 100 ribu-Rp 120 ribu per kg (di masyarakat) di petani ya Rp 70 ribu hingga Rp 80 ribu kg," ujarnya.

Tekanan ke Pedagang dan Rumah Tangga

Lonjakan harga cabai langsung menggerus margin pedagang pasar tradisional. Sejumlah pedagang memilih mengurangi volume belanja dari pemasok untuk menghindari risiko cabai busuk sebelum terjual.

Bagi rumah tangga, cabai merupakan bumbu dasar yang sulit disubstitusi. Kenaikan harga memaksa konsumen menekan porsi belanja atau beralih ke cabai kering dan bubuk dengan kualitas berbeda.

Abdul menyebut kondisi normal baru diperkirakan kembali pada Desember-Januari, meski periode itu diwarnai tantangan musim hujan yang bisa mengganggu panen. Artinya, tekanan harga cabai berpotensi bertahan hingga akhir tahun.

Follow katajateng.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: cnnindonesia.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks