SEMARANG — Kemarau panjang biasanya membuat sejumlah sumber air mengering. Namun, kondisi itu justru berkebalikan di Kali Odo, Dusun Karangnongko, Desa Gedangan, Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Sungai ini justru mengalir deras saat kemarau dan kembali kering ketika musim penghujan tiba.
Pengurus Wisata Kali Odo, Agung Sulistiono, mengatakan warga setempat menyebut kemunculan air tersebut sebagai "air tolongan". Sebab, keberadaannya sangat membantu ketika sumur dan sumber air lain mulai surut.
"Kalau dari desa yang atas kita ngambilnya di sini, desa mana pun sering ngambil di sini buat dibawa ke desanya kayak air tolongan," ujar Agung.
Tujuh Mata Air yang Muncul Saat Kemarau
Menurut kepercayaan masyarakat yang diwariskan turun-temurun, Kali Odo memiliki tujuh mata air atau yang biasa disebut "tuk". Mata air ini hanya mengeluarkan air ketika musim kemarau berlangsung.
Aliran tersebut dipercaya akan berhenti ketika musim hujan tiba, terutama setelah turun hujan deras disertai petir. "Kalau sumbernya orang dulu bilang tujuh tuk (mata air) yang bisa ngeluarin air. Kalau bulan penghujan airnya mati, keluarnya di bulan kemarau aja," kata Agung.
Andalan Air Minum Hingga Irigasi Sawah Tiga Desa
Kehadiran air di tengah kemarau membuat Kali Odo menjadi primadona. Warga tidak hanya memanfaatkannya untuk mandi dan mencuci, tetapi juga membawa pulang air untuk persediaan ketika sumur di rumah mereka mengering.
Air dari sungai ini juga menjadi penopang utama pertanian. Alirannya dialirkan untuk memenuhi kebutuhan air sawah di Desa Gedangan, Rowosari, dan Sraten yang biasa kekeringan di musim kemarau.
Selain untuk kebutuhan rumah tangga dan pertanian, keunikan Kali Odo juga menarik perhatian warga luar daerah. Agung menyebut beberapa rombongan kerap datang untuk mengambil air atau melakukan ritual tertentu, terutama menjelang malam 1 Suro atau Muharam.
Bersih Kali dan Sadranan, Tradisi Sambut Air Muncul
Kemunculan mata air ini juga berkaitan erat dengan tradisi masyarakat setempat. Menjelang datangnya musim kemarau, warga secara gotong royong melakukan bersih kali dengan membersihkan sampah yang menumpuk saat sungai dalam kondisi kering.
Setelah air kembali mengalir deras, masyarakat kemudian menggelar acara sadranan sebagai wujud syukur atas ketersediaan air yang membantu mereka bertahan di musim kering.
Penjelasan Ilmiah: Kombinasi Lag Time dan Akuifer Karst
Di balik mitos dan tradisi, fenomena ini memiliki penjelasan ilmiah. Guru Besar Keairan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Prof Dr Ir Ign Sriyana MS, IPU, APEC Eng, menyebut kondisi tersebut sebagai anomali hidrologi karena aliran air justru meningkat saat kemarau.
"Dalam ilmu hidrologi dan hidrogeologi, fenomena ini disebut sebagai anomali hidrologi," kata Prof Sri.
Menurutnya, salah satu kemungkinan penyebabnya adalah lag time, yakni jeda antara air hujan yang meresap ke dalam tanah hingga akhirnya mencapai akuifer. Jika akuifer berada cukup dalam dan lapisan tanah di atasnya memiliki kemampuan mengalirkan air yang lambat, air hujan membutuhkan waktu lama untuk mencapai lapisan tersebut.
Akibatnya, air yang meresap selama musim penghujan bisa saja baru terkumpul dan keluar sebagai mata air ketika musim kemarau telah berlangsung. Prof Sri menduga fenomena di Kali Odo kemungkinan merupakan kombinasi dari lag time dan sistem akuifer karst, di mana air mengalir melalui rongga dan jaringan sungai bawah tanah sebelum muncul ke permukaan.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga daerah resapan air melalui penghijauan, pembuatan sumur resapan, dan mengurangi penggunaan permukaan yang tertutup beton. Keberadaan Kali Odo menjadi contoh bahwa fenomena alam yang dianggap unik memiliki hubungan erat dengan kondisi geologi dan siklus air, sekaligus menjadi bagian dari kehidupan dan sumber penghidupan warga di sekitarnya.