JAWA TENGAH — Sejak 2017, Respond.io memecahkan masalah sederhana: bisnis kewalahan melayani pelanggan yang sudah pindah ke aplikasi pesan instan. Kini platform mereka menjadi tulang punggung komunikasi untuk perusahaan B2C skala menengah hingga besar.
Model Unik: Bayar per Percakapan, Bukan per Kursi
Kompetitor enterprise software mematok harga per pengguna. Respond.io memilih jalan berbeda: bayar per volume percakapan. "Ketika lebih sedikit manusia yang menggunakan produkmu, mereka menghasilkan lebih sedikit uang. Tapi kami tidak menerapkan model seperti itu," jelas Co-founder dan CEO Gerardo Salandra kepada TechCrunch.
Model ini menjadi kunci adaptasi di era AI. Sistem pricing mereka tidak peduli apakah jawaban diberikan oleh manusia atau agen AI. "Setiap hari AI menjadi lebih menonjol, kami tumbuh lebih cepat," tambah Salandra.
Agen AI yang Bisa Tutup Penjualan Otomatis
Platform ini mengintegrasikan WhatsApp, Instagram, TikTok, Messenger, Line, Telegram, WeChat, panggilan suara, hingga web chat. Fitur utamanya adalah agen AI yang menangani volume tinggi pertanyaan pelanggan, memenuhi syarat prospek, hingga menutup penjualan tanpa campur tangan manusia.
Salandra menyebut target pasar utamanya adalah bisnis "high-consideration", di mana pelanggan perlu ngobrol dulu sebelum membeli. Contohnya sektor kesehatan, otomotif, ritel, pendidikan, dan perjalanan. "Kamu tidak pergi ke website, masukkan kartu kredit, lalu beli mobil. Kamu ngobrol dengan seseorang, kamu bertanya banyak hal," ujarnya. Perusahaan dengan 200 hingga 10.000 karyawan menjadi sweet spot mereka.
Data 2 Miliar Pesan per Kuartal Jadi 'Bahan Bakar' AI
Saat ini, Respond.io memproses 2 miliar pesan setiap kuartal. Volume masif ini menciptakan "data flywheel": lebih banyak pesan berarti AI yang lebih baik, AI yang lebih baik menarik lebih banyak pelanggan, dan lebih banyak pelanggan menghasilkan lebih banyak pesan.
Menurut Salandra, keunggulan start ini penting untuk menghadapi potensi gangguan dari tools AI generatif seperti ChatGPT. "Karena kami mulai sejak lama dan memiliki fondasi yang kuat, kami bisa menyediakan AI yang lebih baik dibandingkan seseorang yang baru masuk ke ruang pesan instan," tegasnya.
Platform lawas yang dominan di Amerika Utara dan Eropa dibangun di sekitar surel dan panggilan telepon. "Mereka menambahkan fitur pesan instan sebagai pemikiran kedua. Sangat fokus pada surel, sangat fokus pada panggilan, tapi soal pesan instan, itu hanya tempelan," kritiknya.
Ekspansi ke Amerika Utara dan Akuisisi Startup Lain
Dengan dana segar ini, Respond.io berencana melakukan perekrutan, pertumbuhan organik, dan akuisisi. Salandra mengincar dua jenis target: teknologi plug-in yang cocok dengan ekosistem mereka, dan tim yang sudah mapan dengan basis pelanggan kuat di pasar strategis seperti Eropa dan Amerika Utara.
"Bayangkan berapa bulan yang bisa saya hemat jika menemukan perusahaan yang tepat yang mungkin sudah memiliki klien dan tim. Saya bisa menghemat enam bulan hingga satu tahun melalui akuisisi," katanya. Ia mengonfirmasi sedang dalam pembicaraan dengan beberapa calon target.
Saat ini, pendapatan Respond.io 30% berasal dari Asia-Pasifik, 30% dari Amerika Latin, 20% dari Timur Tengah dan Afrika, dan hanya 20% dari Amerika Utara dan Eropa Barat. Namun, Salandra menyebut kawasan tersebut kini menjadi yang paling cepat berkembang. "Mereka butuh waktu lebih lama untuk berubah, tapi sekarang mereka bergerak sangat cepat ke saluran pesan instan," ujarnya. Ia memprediksi kedua kawasan itu akan menjadi segmen terbesar dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
Disiplin Bertumbuh, Target Puncak di Nasdaq
Meski mendapat suntikan dana besar, Salandra menegaskan sikap hati-hati. "Kami tidak ingin menjadi perusahaan yang bertumbuh dengan segala cara. Bahkan dengan uang ini, kami akan sangat disiplin," katanya.
Namun ambisinya jelas. Ditanya soal hasil akhir yang paling diinginkan, Salandra menjawab singkat: "Membunyikan bel di Nasdaq."