Pencarian

Piala Dunia 2026 Gunakan Kembaran Digital Pemain untuk Bantu Wasit Hilangkan Keputusan Kontroversial

Jumat, 12 Juni 2026 • 23:05:02 WIB
Piala Dunia 2026 Gunakan Kembaran Digital Pemain untuk Bantu Wasit Hilangkan Keputusan Kontroversial
Teknologi digital twin pemain digunakan untuk membantu wasit Piala Dunia 2026 dalam pengambilan keputusan.

FIFA mempersenjatai wasit Piala Dunia 2026 dengan seperangkat teknologi pengambilan keputusan paling canggih dalam sejarah olahraga. Sistem yang sudah familiar seperti VAR (video assistant referee) dan SAOT (semi-automated offside technology) akan tetap digunakan, tetapi ada tambahan baru yang secara fundamental mengubah cara wasit menilai posisi pemain di lapangan.

Digital Twin: Replika Tubuh Pemain yang Bisa Dimasukkan ke Simulasi Pertandingan

Setiap pemain yang berlaga di Piala Dunia tahun ini telah menjalani pemindaian tubuh menyeluruh. Hasilnya adalah model digital yang merekam tinggi badan, panjang lengan, ukuran kaki, dan dimensi tubuh lainnya dengan presisi tinggi.

Model ini bisa "dijatuhkan" ke dalam simulasi virtual pertandingan untuk menentukan posisi eksak seorang pemain relatif terhadap bola, garis batas, dan lawan. Dengan data ini, ofisial dapat memeriksa ulang keputusan offside atau pelanggaran tanpa harus bergantung pada sudut kamera yang terbatas.

Lapangan Dipenuhi Kamera dan Sensor untuk Tangkap Setiap Pergerakan

Seluruh area pertandingan akan dibanjiri sensor, kamera, dan perangkat lunak computer vision baru. Teknologi ini memungkinkan pelacakan posisi setiap pemain secara real-time, menciptakan data tiga dimensi yang lebih kaya dibandingkan tayangan video dua dimensi konvensional.

Data dari seluruh perangkat ini kemudian digabungkan dengan digital twin pemain untuk menghasilkan rekonstruksi kejadian yang paling akurat. Wasit di lapangan dan ofisial di pinggir lapangan dapat mengakses informasi ini untuk membantu menentukan penalti, pelanggaran offside, dan keputusan krusial lainnya.

Mengapa Ini Penting untuk Sepak Bola Indonesia?

Bagi penonton di Indonesia, teknologi ini bukan sekadar berita dari luar negeri. Liga-liga domestik, termasuk Liga 1, masih bergelut dengan kontroversi keputusan wasit yang kerap memicu protes dan kerusuhan.

Meskipun belum ada rencana adopsi digital twin di kompetisi Indonesia dalam waktu dekat, standar akurasi yang ditetapkan FIFA di Piala Dunia 2026 akan menjadi tolok ukur baru. Ke depannya, tekanan publik untuk menggunakan teknologi serupa di liga lokal kemungkinan akan semakin besar, terutama jika turnamen ini berhasil meminimalkan kesalahan keputusan secara signifikan.

Teknologi Paling Maju di Olahraga Level Atas

FIFA menyebut sistem yang digunakan di Piala Dunia 2026 ini sebagai salah satu penerapan teknologi adjudikasi paling mutakhir — tidak hanya di sepak bola, tetapi di seluruh cabang olahraga profesional. Kombinasi VAR, SAOT, dan digital twin menciptakan lapisan verifikasi berlapis yang sebelumnya tidak mungkin dilakukan.

Pertanyaannya sekarang: seberapa cepat teknologi ini akan turun ke level klub dan kompetisi nasional? Jawabannya mungkin tergantung pada seberapa sering kita melihat keputusan kontroversial yang bisa dihindari di turnamen musim panas nanti.

Bagikan
Sumber: arstechnica.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks