JAWA TENGAH — Korban kedua yang teridentifikasi bernama Maryam, seorang perempuan lansia warga Mangkang Kulon, Kecamatan Tugu. Ia terseret derasnya arus banjir setelah tanggul Sungai Plumbon jebol pada Jumat siang. Kepala BPBD Kota Semarang Endro P Martanto menyatakan jasad korban ditemukan di parit area persawahan tidak jauh dari lokasi kejadian.
"Korban sudah ditemukan," kata Endro kepada wartawan melalui layanan pesan singkat, Sabtu (16/5).
Kronologi: Dua Peristiwa Terpisah dalam Sehari
Peristiwa pertama terjadi di Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan, Jumat siang. Seorang remaja putri tersapu luapan Sungai Silandak dan ditemukan tewas beberapa jam kemudian. Peristiwa kedua terjadi di Mangkang Kulon pada waktu yang hampir bersamaan, dipicu jebolnya tanggul Sungai Plumbon yang menghanyutkan Maryam.
Dari dua kejadian itu, BPBD mencatat satu warga lainnya hanyut namun berhasil ditemukan dalam kondisi selamat. Korban selamat tersebut mengalami dislokasi pada bagian bahu dan kini menjalani perawatan intensif di RSUD Dr Adhyatma MPH Tugurejo Kota Semarang.
Penyebab: Tanggul Jebol dan Luapan Sungai
Banjir yang melanda Semarang kali ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur sejak Kamis malam hingga Jumat sore. Debit air yang melampaui kapasitas normal menyebabkan tanggul Sungai Plumbon di Mangkang Kulon tidak mampu menahan tekanan dan akhirnya jebol. Sementara di Purwoyoso, luapan Sungai Silandak merendam pemukiman padat penduduk dengan ketinggian air mencapai satu meter.
Endro menjelaskan bahwa tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih melakukan evakuasi di beberapa titik yang terendam. "Kami imbau warga yang tinggal di bantaran sungai untuk tetap waspada, terutama jika hujan kembali turun dengan intensitas tinggi," ujarnya.
Apa Langkah Selanjutnya?
BPBD Kota Semarang bersama Dinas Pekerjaan Umum masih melakukan asesmen terhadap kondisi tanggul yang jebol. Perbaikan darurat direncanakan mulai dilakukan dalam waktu dekat untuk mengantisipasi potensi banjir susulan. Selain itu, tim kesehatan diterjunkan ke lokasi pengungsian untuk mengantisipasi penyakit pascabanjir seperti diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Data sementara dari posko bencana mencatat lebih dari 500 kepala keluarga terdampak di dua kelurahan. Sebagian warga masih bertahan di rumah masing-masing, sementara lainnya memilih mengungsi ke rumah kerabat atau tempat yang lebih aman. Pemerintah kota belum menetapkan status tanggap darurat, namun distribusi bantuan logistik sudah mulai dilakukan sejak Jumat malam.