SEMARANG — Tren positif menyelimuti kondisi ekonomi Jawa Tengah pada pembukaan tahun 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini menembus angka Rp511,99 triliun atas dasar harga berlaku.
Kepala BPS Jawa Tengah, Ali Said, menjelaskan bahwa pertumbuhan 5,89 persen (yoy) tersebut merupakan lompatan besar. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun sebelumnya, pertumbuhan ekonomi daerah ini hanya berada di angka 4,96 persen.
Bagaimana Sektor Pertanian dan Industri Menopang Pertumbuhan?
Industri pengolahan tetap menjadi tulang punggung utama ekonomi Jawa Tengah dengan kontribusi mencapai 32,69 persen. Meski demikian, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan memberikan kejutan dengan pertumbuhan tajam sebesar 21,53 persen yang dipicu oleh momentum panen raya di berbagai wilayah.
Selain faktor produksi, derasnya arus modal turut memperkuat fundamental ekonomi daerah. Hingga triwulan I-2026, realisasi investasi di Jawa Tengah telah mencapai Rp23,02 triliun. Angka ini setara dengan 23,23 persen dari total target investasi tahunan yang ditetapkan pemerintah daerah.
Investasi tersebut didominasi oleh Penanaman Modal Asing (PMA) dengan investor utama berasal dari Singapura dan Korea Selatan. Dampak langsung dari masuknya modal ini terlihat pada penyerapan tenaga kerja lokal. Tercatat ada 24.957 proyek yang sedang berjalan dan mampu menampung sekitar 92.000 pekerja, terutama di sektor industri padat karya.
Gubernur Tekankan Stabilitas Wilayah dan Ruang Digital
Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, menilai raport hijau ekonomi ini merupakan hasil sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam menjaga produktivitas daerah.
“Alhamdulillah, hasil ini membuktikan bahwa arah kebijakan kita sudah tepat. Ini bukan keberhasilan individu, melainkan hasil gotong royong semua elemen dalam menjaga produktivitas daerah,” ujar Ahmad Luthfi di Semarang baru-baru ini.
Luthfi juga mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi yang inklusif memerlukan iklim usaha yang sehat dan kondusif. Ia meminta masyarakat untuk ikut serta menjaga stabilitas, termasuk di dunia maya, guna memastikan investor tetap merasa aman menanamkan modalnya di Jawa Tengah.
“Kami berkomitmen untuk menjaga iklim usaha yang sehat. Selain di lapangan, saya juga berpesan agar masyarakat menjaga ruang digital tetap harmonis. Hindari adu domba di media sosial agar pembangunan tidak terhambat oleh konflik yang tidak perlu,” pungkasnya.