Pencarian

Psikolog UMS Surakarta Ungkap Cara Jaga Konsistensi Ibadah Pasca Ramadan

Rabu, 06 Mei 2026 • 09:24:02 WIB
Psikolog UMS Surakarta Ungkap Cara Jaga Konsistensi Ibadah Pasca Ramadan
Drs. Soleh Amini Yahman menekankan pentingnya strategi mental untuk menjaga konsistensi ibadah setelah Ramadan.

SURAKARTA — Menurunnya semangat beribadah setelah berlalunya bulan suci menjadi perhatian serius bagi kalangan akademisi dan praktisi psikologi. Fenomena ini sering kali membuat pola hidup disiplin yang terbentuk selama sebulan penuh mendadak hilang saat memasuki bulan Syawal.

Dosen Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Drs. Soleh Amini Yahman, M.Si., Psi., memberikan pandangannya mengenai upaya mempertahankan kesalehan tersebut. Menurutnya, transisi dari bulan Ramadan ke bulan-bulan biasa memerlukan strategi mental yang kuat agar kualitas spiritual tidak merosot tajam.

Mengapa Semangat Ibadah Kerap Menurun Setelah Lebaran?

Secara psikologis, perubahan rutinitas yang drastis setelah Idulfitri sering kali memicu kembalinya kebiasaan lama yang kurang produktif. Soleh Amini menilai bahwa kesalehan yang diraih selama Ramadan seharusnya menjadi fondasi, bukan sekadar penggugur kewajiban musiman.

Ia menyoroti bahwa tantangan terbesar umat Muslim adalah menjaga "cahaya" Ramadan agar tetap terang di tengah kesibukan pekerjaan dan aktivitas sosial yang kembali normal. Tanpa adanya niat yang dikonversi menjadi kebiasaan (habit), capaian spiritual selama sebulan bisa hilang dalam waktu singkat.

Strategi Menjaga Ritme Kesalehan di Bulan Syawal

Ada beberapa langkah praktis yang bisa dilakukan untuk merawat konsistensi ibadah. Soleh Amini menekankan pentingnya menetapkan target kecil namun berkelanjutan daripada memaksakan ibadah berat yang hanya bertahan beberapa hari.

  • Melanjutkan puasa sunnah Syawal sebagai bentuk transisi fisik dan mental.
  • Menjaga jadwal salat lima waktu di awal waktu seperti saat Ramadan.
  • Mempertahankan durasi membaca Al-Qur'an meski dengan kuantitas yang lebih sedikit.
  • Tetap mengalokasikan sedekah rutin untuk menjaga empati sosial.

Upaya ini disebut sebagai ikhtiar untuk mempertahankan kesalehan personal dan sosial. Dengan menjaga konsistensi, seorang individu tidak hanya saleh secara ritual di dalam masjid, tetapi juga menunjukkan perilaku baik dalam interaksi bermasyarakat.

Pentingnya Dukungan Lingkungan dan Komunitas

Selain faktor internal, lingkungan sekitar memegang peran krusial dalam menjaga motivasi seseorang. Psikolog UMS ini berpendapat bahwa berinteraksi dengan komunitas yang memiliki visi spiritual yang sama akan sangat membantu proses istikamah.

Kesalehan pasca Ramadan bukan berarti seseorang harus beribadah nonstop sepanjang hari. Namun, lebih kepada bagaimana nilai-nilai kejujuran, kesabaran, dan kedisiplinan yang dilatih selama puasa tetap melekat dalam karakter individu tersebut di bulan-bulan berikutnya.

Bagikan
Sumber: radarsolo.jawapos.com

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks